Archive for the ‘Agriculture’ Category
Time is running out for Sumatra
![]()
The Jakarta Post, December 13, 2008
At the International Union for the Conservation of Nature’s (IUCN) World Conservation Congress in Barcelona, Spain last month, the Indonesian government declared its commitment to saving Sumatra’s forests. The joint pledge between regional Sumatran administrations as well as the central government was fully backed by the prestigious World Wildlife Fund (WWF).
The commitment marks the first time regional and central governments have shown a willingness to cooperate in protecting the island’s magnificent biodiversity.
Sumatra is home to eleven national parks, stretching from Aceh to Lampung, each with a unique ecosystem. Kerinci Seblat and Bukit Barisan Selatan national parks are recognized as World Heritage sites, considered of global importance and under the watch of the international community. Of course each World Heritage site belongs to people who live in the area, but it is considered in the interest of the international community to protect them. Leuser National Park, meanwhile, has been given the special status of being both a World Heritage site and a biosphere reserve. Biosphere reserves are designated in order to preserve biodiversity, which will in turn improve people’s welfare and preserve cultural heritage.
Komitmen menyelamatkan Sumatera
Dalam kongres Konservasi Dunia IUCN di Barcelona, Oktober lalu, pemerintah daerah provinsi-provinsi di Sumatera mengeluarkan pernyataan bersama: Save Sumatra! Pernyataan bersama yang disebut bersejarah dan pertama ini berisi komitmen kuat pemerintah untuk menyelamatkan ekosistem hutan yang kritis di pulau ini.
Komitmen ini mendapat dukungan penuh dari dari lembaga non-pemerintah kelas dunia World Wide Fund for Nature (WWF). Secara khusus WWF mengeluarkan petisi dukungan atas inisiatif ini. Petisi ini diharapkan mampu memberikan dukungan moral bagi pemerintah untuk bekerja keras menyelamatkan keragaman hayati di pulau ini.
Ekosistem terancam
Pernyataan ini secara khusus menggarisbawahi laju kehilangan areal hutan yang luas di Pulau Sumatera, mencapai 85 persen sejak tahun 1985. Di samping itu, kerentanan ekosistem gambut yang mencapai 13 persen dari total ekosistem yang tersisa juga menjadi catatan penting. Sebagai sumber karbon, pembukaan hutan gambut ini akan meningkatkan laju emisi karbon. Padahal saat ini, karena laju deforestasi, Indonesia telah menjadi salah satu negara pengemisi karbon terbesar. Karena itu, penyelamatan hutan Sumatera diyakini berkontribusi nyata terhadap mitigasi perubahan iklim.
Keunikan ekosistem pulau ini sebenarnya telah diakui secara nasional, dan bahkan internasional. Ada sebelas taman nasional terdapat di Pulau Sumatera, membujur dari Aceh sampai ke Lampung. Tiga taman nasional, yakni Taman Nasional Gunung Leuser, Kerinci Seblat dan Bukit Barisan Selatan telah ditetapkan sebagai World Heritage. Sebagai World Heritage, maka sesungguhnya taman-taman nasional tersebut sudah menjadi milik international, dan menjadi tanggung jawab global untuk menyelamatkannya.
Food security in today’s changing world
Published on the Jakarta Post, October 31, 2008
The image was taken from www.rodneyonearth.com)
In the observance of World Food Day on Oct. 16, attention was given to the effects of climate change and bioenergy on the poor. This theme emphasized the results from the High Level Conference on World Food Security in Rome (June 3-5, 2008), which focused on the challenges of climate change and bioenergy.
Food security undeniably remains the major concern of the modern era. According to the report from the High Level Conference, during the first three months of 2008, “international nominal prices of all major food commodities reached their highest levels in nearly 50 years while prices in real terms were the highest in nearly 30 years”. The report also stated that food prices are likely to remain high in the next few years. Developing countries will certainly suffer the most.
It is also predicted that skyrocketing food prices will destroy about 800 million people who are already affected by chronic starvation. More people are believed to be having greater difficulty buying healthy food for their families. What is most worrying is that this could trigger social unrest across the developing world. Hence, the food crisis is becoming the main obstacle to global development and could risk global stability.
Harga sawit dan pertanian kita
Dimuat Harian Rakyat Bengkulu, 20 November 2008 
(Sumber gambar: Dirjen Perkebunan Deptan)
Beberapa waktu lalu Harian Rakyat Bengkulu menurunkan laporan tentang keresahan petani terhadap turunnya harga sawit. Harga sawit memang fluktuatif. Sebelum kenaikan harga yang signifikan, harga sawit juga tak begitu baik. Sebagai komoditas ekspor, iklim dan kondisi perdagangan dunia sangat mempengaruhi komoditas ini. Krisis finansial di Amerika yang kemudian mengglobal ikut menjadi penyebab turunnya harga ini.
Sawit merupakan komoditas pertanian yang cukup kontroversial. Pengembangan komoditas ini disebut-sebut sebagai salah satu penyebab kerusakan hutan yang masif di Indonesia. Jika sebelumnya minyak sawit hanya dipergunakan untuk kandungan produk makanan dan kosmetika, permintaan sawit melonjak dengan adanya pengembangan bahan bakar nabati (bio-fuel).
Paradoks bio-fuel
DetikCom, 22 Agustus 2008
Beberapa tahun belakangan marak dibicarakan tentang bahan bakar nabati (bio-fuel). Ditengah melonjaknya harga minyak dunia dan maraknya isu perubahan iklim, bio-fuel menjadi primadona baru. Bahan bakar nabati menjadi pilihan karena ia kompatibel dengan mesin-mesin yang memakai minyak sebelumnya. Ditambah dengan kepentingan bisnis, negara-negara maju mulai melakukan produksi massal bahan bakar nabati.
Tapi, peningkatan permintaan terhadap bahan baku bio-fuel, menempatkan negara-negara berkembang, sekali lagi, pada posisi dilematis. Di satu sisi, hal ini merupakan peluang ekspor yang sangat besar. Sebaliknya, di sisi lain ada ancaman dibalik ini.
Ancaman pertama adalah deforestasi. Kelapa sawit merupakan pilihan utama bahan baku bio-fuel. Meningginya permintaan terhadap minyak sawit membuat ekspansi dan konversi lahan meningkat demikian cepatnya. Perusahaan nasional dan multi-nasional ramai-ramai mengajukan proposal pembukaan lahan hutan untuk dijadikan perkebunan sawit. Menurut laporan yang diterbitkan Greenpeace Indonesia, dari 28 juta hektar hutan yang dihancurkan sejak tahun 1990, sebagian besarnya ditujukan untuk pembuatan perkebunan kelapa sawit.
Revolusi hijau lestari dan swasembada beras
Republika, 11 Agustus 2008
Ketika menghadiri Pekan Padi Nasional Juli lalu di Subang, Presiden Yudhoyono menyatakan kembali tekad untuk mencapai swasembada beras. Kala itu, presiden menggaungkan revolusi hijau kedua atau revolusi hijau lestari sebagai strategi untuk mencapainya. Lebih jauh, presiden menegaskan bahwa Indonesia bisa kembali menjadi pengekspor beras. Ketika pertemuan delapan negara berkembang Islam (developing eight) di Kuala Lumpur beberapa waktu lalu, Presiden Yudhoyono juga menjual konsep serupa. Lalu, benarkah Indonesia butuh revolusi hijau kedua?
Tema revolusi hijau kedua sebenarnya bukanlah barang baru. Dalam KTT Pangan 1996, organisasi pangan PBB (FAO) telah dinyatakan bahwa revolusi hijau pertama telah menjaga pasokan kebutuhan pangan selama 30 tahun. Namun, untuk menjamin ketersediaan pangan umat manusia yang diproyeksikan mencapai 8 milyar pada 2050 diperlukan revolusi hijau kedua.
Dalam konteks Asia, pertemuan para editor dari Asia dan Eropa di Bangkok baru-baru lalu menjadikan tema revolusi hijau kedua sebagai bahasan utama. Dalam pertemuan ini, pembicaraan mengenai beras menjadi hangat karena merupakan makanan utama dari setengah populasi dunia, terutama Asia. Pertemuan negara-negara Asia Selatan di Colombo yang baru berakhir 3 Agustus kemarin juga meletakkan masalah krisis pangan sebagai masalah utama kawasan ini di samping terorisme.

