Archive for the ‘Forestry’ Category
Menuju Kopenhagen
Pertemuan Para Pihak Ke-15 (COP-15) tentang Perubahan Iklim di Kopenhagen, Denmark, terasa penting karena menentukan skema pasca-Protokol Kyoto 2012.
Namun, keraguan besar membayangi hasil yang akan dicapai. Komitmen negara maju untuk menurunkan emisi masih dipertanyakan. Posisi China dan India yang dianggap kunci dari negara berkembang juga belum jelas.
Hasil penelitian terbaru Maplecroft menambah amunisi China dan India untuk tidak terikat target penurunan emisi. Lembaga ini menyebutkan, emisi karbon China, yang secara total lebih besar dari negara lain, hanya 4,5 ton per kapita per per tahun dan India 1,1 ton. Ini jauh di bawah Australia dan Amerika Serikat yang 20,5 ton dan 19,7 ton per kapita. Terkait hal itu, Presiden Barack Obama merasa perlu berkunjung ke China dan akan menerima kunjungan Perdana Menteri India di Washington.
Will the forestry sector be pretty in Copenhagen?
The Jakarta Post, 8 December 2009
Copenhagen will be at the center of attention these coming weeks. The Conference of Parties (CoP) 15 on climate change is an undeniably major event that will decide the next steps in mitigating global warming. Most climate change analysts agree this is a crucial meeting to discuss post-Kyoto Protocol actions.
However, there are still some doubts shadowing the possible outcomes of this meeting. The commitment of developed countries to reduce their carbon emissions is still questionable. The positions of the developing world’s two leading emitters, i.e. China and India, are also dubious. Given the fact that their emissions per capita are much lower than developed nations, they have a strong argument against setting themselves binding targets. Read the rest of this entry »
Hasan dan Hutan
![]()
Harian Kompas, 29 Oktober 2009
Kabinet Indonesia Bersatu jilid II telah dilantik. Sebagian besar pengamat menyayangkan dominannya politisi di kabinet ini. Janji presiden untuk menempatkan lebih banyak profesional tak terwujud.
Presiden memercayakan Menteri Kehutanan kepada politikus. Agaknya Presiden percaya, departemen ini tak memerlukan pemimpin cakap teknis, cukup cakap politis. Ini menggambarkan, pembuat kebijakan negeri yakin, sektor kehutanan tak menghadapi soal teknis. Kalangan rimbawan(ti) Indonesia berkeluh kesah dengan kondisi ini. Tak layakkah rimbawan(ti) menduduki posisi Manggala Wanabakti (MWB) 1?