Archive for the ‘Sosio-cultural’ Category
Tafsir Ekologis Cicak vs Buaya
Perseteruan “cicak vs buaya” masih kabur bagaimana ujungnya. Belum selesainya penanganan kasus Bibit-Chandra, ditambah pengakuan terakhir Wilardi Wizard dalam kasus Antasari Azhar semakin membuat episode ini penuh kejutan. Tak kurang, energi bangsa tersedot untuk ini. Cerita program 100 hari pemerintahan Yudhoyono-Budiono tak lagi menarik bagi memori publik. Rakyat seakan menyaksikan dengan tegang rangkaian klimaks dan anti-klimaks yang bakal terjadi dalam pertunjukan ini.
Cicak vs buaya
Tak disengaja, pengistilahan “cicak vs buaya” seakan menyiram bensin ke api, membesar seketika. Langsung saja istilah ini mengigatkan kita pada kisah Daud vs Jalut. Nurani kemanusiaan memang cenderung membela yang lemah. Karena itu, kesalahan pertama pihak polisi sesungguhnya ketika memandang KPK sebagai pihak yang lemah (cicak).
We must prove our resilience in the face of disaster
![]()
The Jakarta Post, September 10, 2009
The disasters just keep coming and coming. Dozens of people died and hundreds more were injured last week when a powerful earthquake hit West Java. This seismic activity was even shook the nation’s capital. These sorts of terrifying tremors undeniably haunt the life of people in Indonesia, from Sabang to Merauke.
The movement of the tectonic plates along the Ring of Fire, which engulfs the country, puts Indonesia in a precarious position. Unpredictable seismic activity, together with the risk of tsunami, cause great uncertainty. But this is not the end of the story. This year, there is also concern about the possibility of a prolonged dry season and perhaps even a drought because of the El Nino phenomenon and, all the while we still face the threat of the spread of the swine and bird flu.
Mempertahankan bahasa (Bengkulu)
Tulisan ini bisa dibaca juga di Simpang Limo
Ketika berkenalan dengan seorang dari Zambia, Afrika, karena mengetahui saya dari Indonesia, ia kemudian bertanya, “Do you speak Dutch?” “No, why should I speak Dutch” saya jawab. “I speak Bahasa Indonesia,” saya tambahkan lagi. Loh, kan Indonesia dijajah Belanda ratusan tahun, kok Bahasa Belanda tidak menjadi Bahasa nasional. “Itulah hebatnya Indonesia,” saya berbangga. “Sisa-sisa kolonialisme sudah kami buang semua. Kami tak ingin punya keterikatan dengan bangsa yang pernah menjajah kami,” tegas saya lagi.
Memang persoalan bahasa seperti ini jadi agak ‘aneh’ di Benua Afrika. Sejarah kolonialisme masih meninggalkan bekas, paling tidak bahasa. Banyak negara jajahan Inggris, semisal Afrika Selatan, Zimbabwe dan Zambia, menjadikan Bahasa Inggris sebagai bahasa resmi. Jajahan Perancis, semacam Pantai Gading dan Mali, menjadikan Bahasa Perancis sebagai bahasa kenegaraan. Atau Mozambique yang berbahasa Portugis. Sebagian lagi di Afrika bagian utara berbahasa Arab sebagai imbas dari perluasan kekhalifahan Islam abad pertengahan.
Nationalism at crossroads
The Jakarta Post, August 26, 2008
August is the month when people feel as if they are real Indonesians. This is when we are reminded that we live and were born in a country called Indonesia. But, what is it about being Indonesian?
Many may think that being Indonesian is their fate. Being born in this tropical country has made us Indonesians. But, frankly speaking, to be Indonesian is not a good thing for some of us. We may want to protest to God why he did not create us to be a citizen of a wealthy country where life is much more convenient — less poverty, no fuel scarcity, and where it is easy to find a job and make money.
Even though the number is fewer than other countries, such as China and India, Indonesia also suffers from brain drain. Many young people tend to study and work in developed countries where wages are higher. They do not agree with these wise words: “Living at our own country is better although stony rain here and golden rain in somewhere else”.
Nasionalisme tak bernyawa
Yansen, Bengkulu, Opini
Sebagai orang Indonesia, banyak kita mungkin tak pernah memikirkan apa sebenarnya makna menjadi orang Indonesia. Garis takdir terlahir di zamrud khatulistiwa ini dijadikan sebagai sesuatu yang taken for granted. Rutinitas hidup menjadikan kontemplasi diri sebagai bangsa tak dianggap penting. Cukuplah renungan nasionalisme itu dilakukan oleh intelektual, jadi jualan para politisi atau cerita perayaan kemerdekaan setiap Agustus seperti saat ini. Kemudian muncullah apa yang disebut oleh Michael Billig (1995) sebagai banal nationalism, nasionalisme biasa, tak bertenaga dan tak bernyawa.
Nasionalisme, kata Anthony Giddens (1985), adalah fenomena yang utamanya bersifat psikologis. Suasana psikologis ini diciptakan dari fondasi kebersamaan. Penumbuhan rasa kebangsaan kemudian diikuti perjalanan panjang mencari identitas nasional. Tapi, apa yang dimaksud dengan jati diri nasional seringkali tak terdefinisi secara jelas dan terseret ke wilayah politis. Kelompok berkuasa seringkali memaksakan identitas kebangsaan tanpa proses dialektika yang memadai. Alhasil, identitas nasional bukanlah merupakan sebuah konsensus bersama yang bersifat kultural, tapi hanya sekedar wacana politik penguasa yang dipaksakan. Ini kemudian memunculkan pemaksaan wacana eksistensi nasionalisme negara tanpa pemaknaan terhadap esensi kebersamaan sebagai bangsa.
Krisis lingkungan dan tugas kemanusiaan
DetikCom, 1 Agustus 2008
Dunia baru saja merayakan Hari Lingkungan Hidup, namun krisis lingkungan nampaknya semakin nyata di depan nyata. Bukan hanya krisis lingkungan yang distimulasi oleh aktivitas manusia, semisal polusi dan perubahan iklim karena efek rumah kaca, tapi juga ketidakmampuan mengantisipasi dan menangani dampak bencana alam. Kemandulan ini semakin ditumpulkan oleh kepentingan politik. Baru saja kita menyaksikan kegagalan junta militer Burma untuk mengantisipasi kehilangan jiwa manusia karena Cyclone Nargis. Lebih menyedihkan lagi ketika mereka menolak uluran tangan internasional. Alhasil, kematian berlipat ganda hanya karena tidak cukup penganganan pasca bencana. Kediktatoran telah gagal melindungi nyawa warga negaranya.
Tapi jangan salah, Indonesia juga tak mempunyai rekor yang baik. Setelah dihentak oleh tsunami Aceh yang meminta puluhan ribu nyawa, kita seakan tersadar bahwa manajemen bencana yang lebih baik sangat dibutuhkan. Namun apa daya, tumpukan masalah membuat penanganan bencana dan lingkungan terpinggirkan lagi. Alih-alih manajemen yang baik, latihan evakuasi malah menimbulkan kepanikan. Early warning system untuk tsunami juga tak dijaga kesinambungannya.
