Indonesia Green Chronicle

Yansen – University of Bengkulu and James Cook University

Agama dan moralitas terkungkung

leave a comment »

Ada pertanyaan dilematis di kepala banyak orang Indonesia: mengapa etik dan nilai keagamaan tidak tergejahwantahkan dalam kehidupan berbangsa. Kita dikenal sebagai bangsa yang religius. Atheisme, bahkan, tak mendapat tempat di negera Pancasila ini. Kehidupan ritual keagamaan membaik. Jika bisa dijadikan indikator, lagu-lagu religius laku di pasaran dan rumah-rumah peribadatan ramai pengunjung. Sesuatu yang jarang ditemui pada era 80-an atau 90-an.

Pada kehidupan nyata, tetapi, semangat keagamaan ini seringkali dikesampingkan. Transparansi International masih menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara terkorupsi. Kita baru saja dikejutkan dengan deretan kasus suap yang dilakukan anggota dewan terhormat, sebagian dari mereka bahkan berasal dari partai politik Islam. Sungguh ironi. Kita juga semakin tersentak dengan pengungkapan betapa akutnya praktik penyuapan di institusi Kejaksaan Agung.


Mengapa ini terjadi? Apakah pelajaran keagamaan telah gagal? Apakah praktik keagamaan tidak komplemen dengan moralitas? Demikian deretan pertanyaan bagi sebagian kita. Moralitas seakan-akan terkungkung sehingga tidak aplicable. Kontrasnya, sentimen keagamaan mudah sekali disulut. Front Pembela Islam (FPI) tersulut kemarahannya melihat gelombang pembelaan terhadap Ahmadiyah. Tapi, publik sepertinya tak memperlihatkan oposisi yang berarti terhadap korupsi. Koruptor dengan sangat mudah dimaafkan.

Ambivalensi nilai mungkin menjadi salah satu penyebabnya. Ada jurang antara nilai ideal dengan kehidupan praktis, antara nilai fundamental dan aplikasi, das sein dan das solen. Sebagai contoh, jika bekerja keras, seseorang seharusnya mendapatkan yang ia inginkan. Realitasnya tidak seperti itu. Pegawai negeri yang baik dan pekerja keras tidaklah secara pasti mendapatkan promosi jabatan. Di negeri ini, hubungan kroni, persaudaraan dan terkadang uang merupakan cara yang lebih ampuh untuk mendapatkan jabatan yang baik. Singkatnya, semangat keagamaan tak berujung pada kemanfaatan bagi masyarakat dan tanpa disadari kita telah berkembang menjadi masyarakat hiprokit..

Jika ditanyakan ke Talcott Parsons, ia akan menjawab itulah fungsionalisme imperatif. Keburukan adalah bagian fungsional dari kebaikan. Tanpa kesalahan, kebenaran tak akan dapat diidentifikasi. Kalau seperti ini, apakah kita harus mensyukuri keburukan agar dapat melihat dan menuju pada perbaikan bangsa? Nyatanya, keberlanjutan perilaku distortif tak berujung pada keinsyafan untuk memperbaikinya.

Di negeri ini, perilaku manipulatif dan koruptif sepertinya sudah mendarah daging. Tidak hanya pada level pemimpin, namum sampai ke akar rumput. Kesempatan-kesempatan manipulasi selalu dicari, bahkan diciptakan. Bahkan elemen masyarakat sipil semacam LSM juga tak jelas akuntabilitasnya.

Alhasil, moralitas semakin terpenjara. Penyebab lainnya adalah budaya jalan pintas negatif. Di sekolah, anak-anak kita terbiasa berlaku curang dengan mencontek. Tanpa belajar sungguh-sungguh mereka berharap nilai yang baik. Ketika mencari kerja, jalan pintas yang dicari. Suap menyuap tak tabu dilakukan. Semua mencari jalan pintas. Dan ramai-ramailah kita mendirikan partai politik, sebagai jalan mudah menuju kekuasaan, dan tentu saja kekayaan.

Tanpa sadar budaya ini tercengkeram dalam struktur pikiran masyarakat. Konsekuensinya, masyarakat berpikir inilah ‘jalan yang benar’. Tak heran jika orang berpikir bahwa jalan belakang akan selalu diperlukan. Itulah mengapa suap menyuap semakin subur.

Ketika nilai ideal tidak teraplikasi, terlebih lagi penyimpangan itu diketahui publik secara luas, muncul frustasi sosial. Pragmatisme kemudian berkembang. Sayangnya, ketika nilai tersebut tak mampu diubah, yang terjadi sebaliknya: lahir gelombang besar mengikuti pragmatisme tersebut. Ini kemudian menyemai individualisme: saya lah yang terpenting, tak peduli orang lain. Lu lu, gue gue jadi kalimat suci. Budaya kita di jalan raya mencerminkan hal ini.

Ujungnya, materialisme menjadi prinsip utama. Kesuksesan selalu dikaitkan dengan pencapaian material. Rumah dan kendaraan mewah menjadi simbol prestise. Tak heran, setiap penggantian pejabat, kendaraan dinas selalu jadi prioritas utama. Kebanyakan kita kemudian menjadi Machiavelian—hanya berorientasi pada hasil, tanpa memandang kebenaran caranya. Kita kemudian berkembang menjadi masyarakat materalistik dan individualistik, jauh melebihi masyarakat barat yang kapitalis.

Masalahnya prosedur baku selalu menyusahkan dan tidak menyelesaikan masalah. Tumbuh suburlah percaloan. Bangsa ini berkembang menjadi bangsa dengan mentalitas calo. Kita lebih dari senang hanya mampu mengimpor beras, makanan pokok sendiri, dan kebutuhan lainya daripada meningkatkan produksi dalam negeri. Alasan sederhana, dengan upaya minimal, untung telah didapatkan dari selisih beli dan jual. Menyedihkan sekali. Tanpa keinginan meninggalkan budaya jalan pintas negatif ini, negari ini takkan berkembang menjadi bangsa besar.

Etik moral dan agama merupakan urusan personal, tapi harus menjadi semangat kehidupan berbangsa dan pewarna dalam pandangan hidup bangsa. Tanpa ini, sistem hukum kita, sebagai contoh, selalu potensial disimpangkan. Sedihnya, peluang korupsi memang ditumbuh suburkan. Jika ini terus terjadi, jangan harap perbaikan singgah di Indonesia.

Masyarakat Indonesia bersifat paternalistik. Pemimpin mempunyai peran signifikan dalam perkembangan kehidupan publik. Karenanya, institusi politik dan keagamaan harus mengambil peran dalam menyemai budaya yang lebih baik bagi bangsa ini. Jika mereka melakukan penyimpangan, efeknya bukan hanya personal, tapi juga komunal.

Advertisements

Written by yansenbengkulu

October 27, 2008 at 7:09 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: