Indonesia Green Chronicle

Yansen – University of Bengkulu and James Cook University

Bosan

leave a comment »

Bengkulu Ekspress, Oktober 2007

Setelah reformasi berjalan hampir satu dawawarsa, ada banyak harapan yang belum tercapai. Bahkan, banyak pihak yang semakin apatis akan arah perjalanan bangsa di kemudian hari. Semakin lama, bangsa ini semakin seperti bus yang kehilangan arah. Padahal, didalamnya ada ratusan penumpang yang berharap pada kemampuan, kelihaian dan bahkan kearifan supir dalam melajukan kendaraan. Jika tidak, bus ini akan menjadi juggernaut, istilah Anthony Giddens, tokoh sosial demokrasi. Sebuah kendaraan tak terkendali yang menuju jurang kehancuran.

Indonesia adalah bangsa feodal dan patron. Pemimpin mempunyai pengaruh kuat dalam mengarahkan kehidupan masyarakat. Dulu, pemimpin formal seperti raja mendapatkan kekuasaan melalui jalan keturunan. Dengan kekuasaan tak terbatas mereka menjalankan kekuasaan tanpa kritik. Inilah budaya timur. Oleh pendukung teori-teori sosial barat, hal ini banyak dikritik. Demokrasi kemudian dianggap sistem paling ampuh dan ideal dalam pengaturan hirearki kepemimpinan masyarakat. Walhasil, demokrasi pun dijajakan, bahkan dipaksakan, kesemua bangsa.


Setelah melewati masa-masa kepemimpinan feodal pra-kemerdekaan dan kepemimpinan otoriter Sukarno dan Suharto, Indonesia memilih pun memilih pemimpin secara demokratis. Bahkan, terakhir ini kita memilih pemimpin-pemimpin bangsa secara langsung. Tapi, apakah setelah itu secara mental pemimpin-pemimpin yang terpilih terbebas dari feodalisme? Apakah mereka terbebas dari pikiran bahwa mereka mempunyai kekuasaan sepenuhnya pada masyarakat sehingga bisa memanipulasi keinginan-keinginan grass root? Ternyata tidak. Inilah anomali demokrasi di dunia ketiga.

Mengapa demokrasi dan feodalisme bisa hidup di bawah satu atap. Inilah permasalahan fundamental budaya. Dalam khasanah sosiologis kita, setelah bangsa Indonesia berkembang pesat, struktur pemikiran feodal tidaklah hilang dari logika budaya bangsa. Budaya ini telah menjadi archetypes, dalam istilah Carl Gustaf Jung, alam bawah sadar kita.

Dalam iklim demokrasi, feodalisme bahkan menemukan bentuknya yang paling berbahaya. Ia berbahaya ketika pemimpin yang memiliki jiwa otoriter dan manipulatif terpilih secara demokratis. Alhasil, mereka merasa mempunyai legitimasi yang sangat kuat. Dengan legitimasi itu, para pemimpin tersebut seringkali melabrak etika dan fatsun politk, melanggar aturan dan bahkan melakukan tindakan koruptif dan manipulatif.

Di level nasional, akhirnya menggema ketidakpercayaan pada pemimpin-pemimpin tua. Mereka dianggap gagal mengawal reformasi dan tidak memberikan arah jelas perkembangan bangsa. Walaupun dipilih secara demokratis, mereka dianggap tidak memiliki spirit progresif. Bahkan, mereka ditenggarai membawa penyakit feodal yang akut. Mereka dipercayai hanya mampu mengumbar retorika-retorika politik. Tapi, permasalahan-permasalahan tak kunjung tuntas. Penanganan bencana, lumpur lapindo dan banyak masalah lainnya tidak juga terselesaikan. Masalah yang satu hilang hanya karena tertutupi oleh masalah baru yang muncul. Ujungnya, terjadi kebosanan masyarakat pada para elite pemimpin.

Gejala yang sama muncul pada level daerah. Para pemimpin hanya sibuk beretorika tanpa ada hasil nyata. Mereka hanya pandai mengumbar kata dan melempar janji. Alhasil, satu persatu penyimpangan mulai terkuak. Dengan pemikiran feodal, penguasa menganggap masyarakat hanyalah kawulo abdi yang tak banyak menuntut, bahkan bisa dibodohi. Padahal masyarakat semakin cerdas. Hanya kadang kala tak mampu berbuat apa-apa. Jika begini, akan timbul kebosanan masif terhadap pemimpin. Ujungnya, masyarakat tambah frustasi. Dan, tentunya kita tak ingin ini berubah menjadi, meminjam istilah Eric Hoffer, frustasi sosial. Sesungguhnya tak banyak yang diminta masyarakat. Kebanyakan kita hanya mengharapkan para penguasa memimpin dengan nurani, bukan janji, dan membuktikan dengan hasil nyata, bukan obral kata belaka.

Advertisements

Written by yansenbengkulu

October 27, 2008 at 6:47 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: