Indonesia Green Chronicle

Yansen – University of Bengkulu and James Cook University

Fair play

leave a comment »

Harian Bengkulu Ekspress, September 2007

Insting kompetisi merupakan unsur instrinsik kehidupan manusia. Persaingan sudah muncul ketika proses kejadian manusia akan dimulai. Ratusan bahkan ribuan sel sperma berusaha membuahi satu indung telur. Hasilnya, hanya satu sperma yang berhasil membuahi. Ketika indung telur sudah dibuahi, tertutup peluang sperma-sperma lain untuk membuahi. Karena prosesnya bersifat alamiah, maka tak ada satu pun sperma lain yang protes.

Kehidupan berkompetisi kemudian berlanjut. Ketika kecil, kita berebutan dengan kakak atau adik untuk mendapatkan mainan. Anak pun kadang membuat ulah untuk bersaing mendapatkan perhatian dari orang tuanya. Ketika bermain, anak-anak juga sudah terbiasa dengan pertaruhan ketika bermain adu kelereng atau gasing.

Persaingan pun terjadi ketika bersekolah. Dengan kehebatannya, ada anak-anak yang menonjol dan menjadi juara kelas. Ada juga yang selalu jadi pecundang. Sampai tamat sekolah dan mencari kerja pun, manusia dihadapkan pada suasana perebutan. Orang pun harus berjuang untuk mendapatkan pasangan hidup.


Dari konsep kompetisi ini kemudian muncul terminologi manusia-manusia hebat. Mereka didefinisikan sebagai orang yang melebihi manusia lain. Mereka diposisikan secara terhormat dikomunitasnya, dan seringkali diangkat menjadi pemimpin. Tetapi, sesungguhnya kehebatan manusia bersifat relatif. Ia tergantung dari siapa saingannya dan sebesar apa skalanya. Seorang anak mungkin hebat dikelasnya, tapi tak cukup hebat untuk menjadi juara olimpiade fisika tingkat provinsi. Makanya, kearifan mengatakan “di atas langit masih ada langit”.

Dalam konteks tata pemerintahan, demokrasi adalah instrumen formal kompetisi kehebatan relatif manusia. Manusia-manusia yang (merasa) hebat kemudian berusaha menunjukkan bahwa mereka betul-betul hebat untuk dipilih menjadi pemimpin. Sekali lagi, karena persaingan inheren dengan kehidupan manusia, ia bukanlah hal yang istimewa. Makanya, dalam konteks Kota Bengkulu saat ini, kontestansi pemilihan walikota (pilwakot) bukanlah hal yang luar biasa. Ini adalah kompetisi biasa untuk memilih terbaik dari yang hebat secara relatif.

Maka, hal pokok yang sebenarnya harus dikedepankan adalah kearifan menghadapi persaingan dan adu strategi. Dalam sebuah pertarungan, perang strategi adalah hal yang lumrah. Kita mengenal Muhammad Ali, sang juara dunia tinju internasional, yang terkenal dengan gaya catch me if you can. Dengan tarian lemah gemulai di atas ring tinju, Ali berusaha mengecoh lawan dengan membuat lawan memandang ia lemah. Ia juga terkenal dengan gerakan tipuan seakan-akan tinju kanannya yang menyerang. Padahal, tinju kiri yang lebih bertenaga adalah senjata yang sesungguhnya. Itulah strategi andalannya.

Karena manusia tidak hanya berkehendak berdasarkan insting, tapi juga akal dan nurani, maka harus ada etika kompetisi dan etika adu strategi. Maka, rasanya tidak etis jika nurani dan akal sehat dibelakangkan ketika berusaha merebut hati pemilih. Kampanye hitam, penyebaran desas desus dan pengancaman baik secara fisik maupun psikologi adalah contoh-contoh kompetisi tak bernurani.

Maka bagi warga Kota Bengkulu, tak ada masalah siapa yang menang. Warga pun tak peduli siapa yang paling getol berjanji. Sepanjang permainan yang ditampilkan adalah fair play–permainan yang jujur, masyarakat akan menerima hasilnya. Permainan yang jujur akan melahirkan pemimpin yang jujur. Pemimpin yang jujur takkan menjilati ludah janji yang pernah diumbarnya.

Advertisements

Written by yansenbengkulu

October 27, 2008 at 6:31 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: