Indonesia Green Chronicle

Yansen – University of Bengkulu and James Cook University

Harga sawit dan pertanian kita

with 10 comments

rakyat-bengkulu2

Dimuat Harian Rakyat Bengkulu, 20 November 2008 sawit1

(Sumber gambar: Dirjen Perkebunan Deptan)

Beberapa waktu lalu Harian Rakyat Bengkulu menurunkan laporan tentang keresahan petani terhadap turunnya harga sawit. Harga sawit memang fluktuatif. Sebelum kenaikan harga yang signifikan, harga sawit juga tak begitu baik. Sebagai komoditas ekspor, iklim dan kondisi perdagangan dunia sangat mempengaruhi komoditas ini. Krisis finansial di Amerika yang kemudian mengglobal ikut menjadi penyebab turunnya harga ini.

Sawit merupakan komoditas pertanian yang cukup kontroversial. Pengembangan komoditas ini disebut-sebut sebagai salah satu penyebab kerusakan hutan yang masif di Indonesia. Jika sebelumnya minyak sawit hanya dipergunakan untuk kandungan produk makanan dan kosmetika, permintaan sawit melonjak dengan adanya pengembangan bahan bakar nabati (bio-fuel).


Di tengah maraknya isu perubahan iklim, banyak negara maju mencoba mengembangkan bahan bakar alternatif. Target penurunan emisi yang diamanatkan Konvensi Perubahan Iklim PBB, memaksa negara-negara maju mendesain ulang sektor transportasi, energi dan industri mereka. Bio-fuel merupakan primadona unggulan. Ia menjadi pilihan karena ia kompatibel dengan mesin-mesin yang memakai minyak sebelumnya. Uni Eropa bahkan menargetkan sepersepuluh alat transportasi dengan bahan bakar minyak akan diganti dengan bahan bakar nabati pada 2020.

Sawit menjadi pilihan utama sebagai bahan baku pembuatan bio-fuel ini. Celakanya, sawit hanya tumbuh baik di daerah tropis. Perusahaan internasional dan domestik kemudian berlomba-lomba membuka perkebunan-perkebunan baru. Jutaan hektar hutan dikorbankan untuk memenuhi target produksi. Indonesia dan Malaysia merupakan dua negara utama penghasil minyak sawit mentah. Dalam periode 1995-2004 saja, laju pembukaan lahan sawit di Indonesia mencapai 362.000 ha/tahun. Sebagian besar lahan tersebut adalah di Sumatera dan Kalimantan.

Booming bahan bakar nabati ini kemudian mendongkrak harga sawit. Harga tandan segar yang mencapai Rp. 1500 merupakan berkahnya. Maka tak aneh jika kemudian petani perorangan ikut-ikutan mengembangkan kebun-kebun sawit. Dan tentu saja, petani kita sempat merasakan harga yang baik.

Konversi ke sawit oleh petani perorangan tentu tak salah. Namun jika hanya karena ikut-ikutan dan tanpa pengetahuan memadai tentang komoditas tersebut akan menempatkan petani pada posisi sulit, contohnya yang terjadi saat ini. Kelatahan mengubah komoditas pertanian tak selamanya berujung baik. Hal ini diperparah oleh ketidakmampuan pemerintah untuk berperan optimal dalam penataan sektor pertanian. Petani juga tak pernah disadarkan bahwa ada resiko yang dikandung dari konversi komoditas, yang dilihat cuma peluang dan keuntungan.

Tanpa pengetahuan yang utuh, para petani kemudian melakukan usaha tani yang beresiko tinggi dan tanpa pengelolaan yang baik. Jor-joran kredit kendaraan adalah salah satu contohnya. Petani juga tak terbiasa melakukan manajemen keuangan ketika harga tinggi.

Ada beberapa analisis yang mengatakan bahwa turunnya harga sawit saat ini karena sindikasi internasional yang bermain harga. Sindikasi ini berharap jatuhnya perusahaan-perusahaan yang terjun di pasar sawit. Sindikasi ini mengharapkan dapat membeli perusahan-perusahaan tersebut dengan harga murah. Jika ini yang terjadi, tentu diharapkan harga sawit akan kembali normal lagi pada saatnya.

Beberapa pelajaran

Kejatuhan harga ini seharusnya menjadi momentum untuk berpikir lebih baik tentang kebijakan pertanian pada level daerah. Kelatahan dan ikut-ikutan tak akan berujung baik pada nasib petani. Cukuplah proyek penanaman jarak pagar menjadi contohnya.

Petani merupakan elemen tata niaga pertanian yang paling rentan. Karena itu, perlindungan terhadap petani haruslah merupakan prioritas utama kebijakan pertanian. Karena itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan.

Pertama, pilihan komoditas. Komoditas merupakan bagian pokok pertanian. Pemilihan komoditas yang tepat akan langsung berdampak pada kesejahteraan petani. Berorientasi pada komoditas ekspor tentu tak salah. Tapi resiko harus tetap dipikirkan. Konversi tak terkendali pada satu komoditas hanya akan membuat petani lebih rentan terhadap naik turunnya harga.

Kedua, pengaktifan koperasi-koperasi petani. Sistem ekonomi kita yang sesungguhnya kerakyatan jangan direduksi pada ekonomi pasar semata. Menyandarkan secara total pada mekanisme pasar mebuat petani sangat rentan pada fluktuasi pasar. Kenikmatan hanya dirasakan ketika pasar baik. Karena itu, harus disiapkan mekanisme penahan ketika harga bergejolak. Disinilah koperasi dapat memerankan perananannya. Koperasi petani dapat bertindak sebagai penyelamat ketika harga jatuh.

Ketiga, pencerdasan petani. Disamping pengetahuan bertani, petani juga perlu disadarkan terhadap mekanisme pasar dan juga resiko-resiko usaha tani, terutama karena pilihan komoditas. Pengetahuan ini membuat petani dapat mengorganisasi diri dan memanajemen usaha tani individual mereka, termasuk dalam hal finansial. Petani harus disiapkan untuk mengahadapi fluktuasi harga. Jangan sebaliknya, petani hanya dijadikan komoditas politik.

Keempat, pengembangan pertanian polikultur. Sistem pertanian polikultur harus dikembangkan agar petani tak bergantung pada satu komoditas. Ketika produksi atau harga satu komoditas menurun, komoditas yang lainnya dapat dijadikan cadangan. Dalam konteks ini, polikultur kopi dan lada yang dilakukan banyak petani di Kepahiang dapat menjadi contoh.

Indonesia adalah bangsa agraris. Pengembangan pertanian merupakan pokok sentral kehidupan bangsa ini sejak dulu. Karena itu, sektor ini jangan sampai ditinggalkan atau dibiarkan tak terurus.

Advertisements

Written by yansenbengkulu

October 27, 2008 at 7:41 pm

10 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. jatuhnya harga hasil pertanian yang sedang menjadi issue paling hangat yang sedang trjadi merupakan suatu bentuk ketidak pedulian para penyuluh pertanian akan alternatif lain selain mengandalkan nilai ekpor keluar negeri padahal dibalik itu semua masyarakat kita yang termasuk dalam kum petani yang tidak terdidik hanya tahu bagai mana mendapatkan hasil perkebunan yang banyak dengan harga yang tinggi tidak lebih dari itu.
    sehingga peran penyuluh untuk mencariu alternatif lain sangat lah besar kecuali dalam tanda ” bahwa para penyuluh hanya sekelompok orang yang tamatan dalam tanda “.
    tapi saya sebagai mahasiswa berpandangan walau pun untuk dapat menormalisirkan harga perkebunan sangat tergantung pada nilai tukar rupiah dan disini peran pemerintah untuk menjaga ksatabilan rupiah sangat diperlukan.

    salam blogger : anak bengkulu yang sedang belajar di UNSRI

    bengkuluutara

    October 28, 2008 at 6:57 am

  2. Itulah masalahnya, kita sering latah dan ikut-ikutan, dan pemerintah tidak menjadi sumber informasi yang baik. Berurusan dengan komoditas ekspor memang seperti ini, fluktuasi pasar akan sangat berpengaruh. Makanya, kalau memang berkeinginan mengembangkan komoditas ekspor, harus ada kebijakan yang dapat mengantisipasi kondisi ketika pasar jatuh. Kalau tidak, ya seperti saat ini, petani akan terjepit. Petani kita pun harus terus dicerdaskan. Salam juga.

    yansenbengkulu

    October 28, 2008 at 7:15 am

  3. Setahun saya tinggal di Mukomuko, petani sawit dimanjakan dengan komoditas ekspor yang latah ini. Sampai lahan pencetakan sawah pun menjadi sawit, hutan (HPT, bahkan TNKS) pun dirambah menjadi hamparan sawit. Tak bersisa bagi makhluk lain selain manusia buat merebut hidup. Kapitalis (:bukan pengusaha) yang dilindungi penguasa (daerah dan pusat) mengeksploitasi tanah tampa jenak untuk sedikit saja “merenung”. Jika uang telah menjadi segalanya bagi sekelompok orang, dimanakah petani kita (yang 80 persen lebih penduduk Indonesia itu lho) bisa hidup di tanah sendiri. Petani memang selalu dimarginalkan, saya pikir ini kesengajaan. Dan sistem di negara ini tak pernah melihat dengan sebenar-benarnya. Memang payah jadi petani di tanah subur bernama Indonesia.

    elzam

    October 28, 2008 at 8:42 am

  4. Masalah pertanian dari dulu memang karena kebijakan pertanian yang tidak jelas keberpihakannya pada petani. Migrasi tenaga kerja ke luar negeri juga merupakan imbas dari buruknya kebijakan di sektor pertanian.

    Krisis finansial AS membawa dampak buruk pada perekonomian global, termasuk pada sektor ini. Ada kemungkinan orang desa yang bermigrasi ke luar negeri menjadi semakin meningkat. Kalau benar terjadi, tentu Depnaker dan BNP2TKI akan bahagia. Sebab target mereka memang menjual TKI keluar negeri sebanyak-banyaknya.

    Tentang krisis finansial yang berimbas pada petani komoditas ekspor di Indonesia, Gatra membuat laporan yang cukup menarik. Bisa baca di sini.

    Herman

    October 31, 2008 at 8:41 am

  5. Akan sangat banyak saudara2 kita yang terhempas perubahan ini, apalagi banyak petani yang mengubah fungsi lahannya dari sawah menjadi kebun kelapa sawit.
    terakhir yang aku lihat di bengkulu selatan banyak petani yang membiarkan sawit siap panennya membusuk di pohon. salam kenal Pak 🙂

    fetro

    October 31, 2008 at 8:41 am

  6. Memang rumit permasalahan pertanian Indonesia. Menanam komoditas pangan seringkali tak mendapatkan harga layak, namun menanam komoditas ekspor juga beresiko terhempas ketika iklim perdagangan antar negara tak baik. Makanya, yang harus diusahakan adalah mekanisme fasilitasi agar petani mendapat harga layak untuk komoditas pangan dan terbantu ketika harga jatuh. Disinilah sesungguhnya peran pemerintah ditunggu. Namun, kita lihat Bulog tak berfungsi sebagaimana mestinya, malah jadi tempat korupsi utama. Koperasi-koperasi petani juga tak digiatkan sepenuhnya. Disamping itu, yang terpenting juga pencerdasan petani. Yang sekarang terjadi malah politisasi, di Bengkulu contohnya. Sedih.

    Untuk Herman: mokasih file-nyo. Sayo lagi nyubo nulis masalah menyelamatkan ekosistem hutan Sumatera untuk majalah Inside Indonesia (berbasis di Melbourne). Sayo ndak masukkan analisis tentang seperti apo dampak krisis global ko terhadap perkebunan dan konsekuensinyo terhadap laju pembukaan hutan. File-nyo bisa jadi referensi jugo.

    Untuk Fetro: salam kenal jugo.

    yansenbengkulu

    October 31, 2008 at 9:21 am

  7. Cen, lah jadi wordpress yo…. Cen, sorry baru ngasih tahu… naskahmu sebenarnya sudah kukirimkan ke RB, tapi idak tahu ngapo belum dimuat. Aku seminggu ko agak sibuk. Ke Putri Hijau dan ke Palembang berturut-turut jadi belum sempet kirim email. Bentar lagi aku ndak ke Lubuk Pinang (Selaso sampai Kamis). Ado gawe dsikitlah…

    Sukses selalu yo…. Cak mano dengan blogspot-mu?

    Suharyanto

    November 1, 2008 at 2:56 am

  8. He..eh, cak-nyo lebih mantap wordpress ko. Idak sayo update lagi blogspotnyo, di WordPress ajo.

    Idak apo2, idak dimuek kek RB jugo idak apo2. Kalu kato Alfan Alfian tuh, penulis lepas tuh idak berdaulat atas tulisannyo..he..he…No worries.

    Weleh-weleh, sibuk nian cak-nyo ko. Banyak proyek bentuknyo ko…Ati-ati ngecek tobo-to di ate tu, dicari kek centeng2 tobo tu kelak..he..he.

    yansenbengkulu

    November 1, 2008 at 4:42 am

  9. Wah, menarik sekali kalau tulisanmu bisa dimuat di majalah itu. Sudah lama tidak membacanya. Dulu ia merupakan salah satu referensi bergengsi tentang politik dan budaya di Indonesia. Gerry van Klinken yang menggawangi. Orangnya sangat bersahaja. Tak mau ketinggalan sama orang Yogya, ia pun naik sepeda kemana-mana. Terakhir bertemu dalam sebuah diskusi beberapa tahun lalu, ia berpamitan akan pindah ke Belanda. “Hendak fokus pada penelitian”, katanya.

    Aku juga sedang mengumpulkan beberapa artikel yang mungkin dapat menjelaskan krisis global ini yang berimbas kemana-mana. Aku sempat membaca artikel “The Future of Capitalism” yang dimuat Newsweek, Oct 12, 2008. Artikel ini mencoba mengevaluasi tulisan Francis Fukuyama, The End of History and the Last Man. Mungkin bisa menjadi salah satu referensi untuk membaca krisis saat ini.

    Beritahu Kalau tulisanmu sudah dimuat. Boleh minta filenya kan, untuk nambah pengetahuan dan koleksi pustaka online-ku. 🙂

    Herman

    November 2, 2008 at 3:44 pm

  10. Untuk Herman:
    Mokasih Man. Kini yang jadi Chief Editor-nyo Edward Aspinal, pengajar di ANU. Peneliti masalah Aceh. Udah sempat diskusi via email kek Ed ko tentang tulisan tuh. Semoga minggu iko udah bisa dikirim ke editor. Cuman tulisan pendek sekitar 1000 kato, fokus tulisannyo lebih tentang komitmen kek kompleksitas konservasi hutan di Sumatera. Ditambah sedikit cerito dari lapangan. Cuman sayo ndak nambahkan spekulasi tentang anjloknyo komoditas sawit thd laju pembukaan lahan hutan untuk kebun sawit. Semoga ajo layak muat. Kelak sayo kasih tahu kalu dimuek. Mokasih referensinyo.

    yansenbengkulu

    November 2, 2008 at 9:15 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: