Indonesia Green Chronicle

Yansen – University of Bengkulu and James Cook University

Homo gempaicus

leave a comment »

Dimuat di Bengkulu Ekspress, 20 Oktober 2007

Pengalaman gempa bisa jadi merupakan sebuah pengalaman spiritual. Sifatnya transenden. Maka, tentu saja pemaknaan terhadap bencana ini akan berbeda bagi orang yang mengalami dan mereka yang hanya melihat atau mendengar dari media massa. Tidak ada sebuah karya intelektual yang bisa menggambarkannya secara sangat pas. Dengan langsung mengalaminya, sebagian besar orang-orang Bengkulu begitu terikat dengan suasana gempa. Ada ketakutan, horor, kecemasan dan bahkan kedekatan dengan kematian. Setiap orang punya pengalaman unik bagi dirinya.

Hal yang sama kita rasakan ketika gempa dan tsunami Aceh. Kita terhenyak ketika melihat ribuan mayat bergelimpangan. Orang-orang menangis ketika melihat rekaman perjuangan orang-orang yang menyelamatkan diri. Tetapi, dalam hitungan hari, setelah tayangan-tayangan tersebut diputar berulang kali di televisi. Rasa iba semakin berkurang. Walaupun bantuan terus mengucur, tidak dapat dipungkiri bahwa perasaan terhadap bencana yang menimpa orang lain semakin terkikis.

Karena itu, orang Bengkulu sudah menjadi homo gempaicus—orang-orang dengan pengalaman gempa. Dua gempa besar yang terjadi dalam kurun waktu yang tidak terlalu jauh, seharusnya semakin menyadarkan bahwa kita berdiam di daerah rawan bencana. Tentu saja ini cukup menakutkan. Gempa telah menimbulkan kepanikan luar biasa. Prediksi akan adanya gempa besar di masa yang akan datang tentu membuat trauma yang lebih besar.

Maka, kita butuh manajemen trauma. Dapatkah trauma bencana berefek positif? Itulah tantangannya. Victor Frankl, tokoh psikologi transpersonal, mengemukan teori encounter—pertemuan. Pertemuan-pertemuan dengan pengalaman traumatik, menurut Victor Frankl, harus disikapi dengan sikap positif. Sikap ini akan memunculkan energi-energi positif yang membuat manusia melampaui kemampuan manusiawinya untuk mengalahkan trauma psikologis. Victor Frankl sendiri menerapkan ini untuk mengatasi kengerian dan trauma yang dihadapinya ketika di kamp konsentrasi Autswitch. Bisakah kita? Kita sendirilah yang mampu menjawabnya.

Lalu, ketika bencana telah akrab dengan kita, seharusnya ada manajemen bencana yang baik. Ternyata tidak. Rekomendasi tempat-tempat yang aman untuk mengungsi jika terjadi tsunami tidak diikuti sistem evakuasi yang memadai. Tak mengherankan jika terjadi penumpukan dan kemacetan ketika semuanya menuju titik yang sama. Bengkulu bahkan hanya punya simpanan tenda yang sedikit sekali di gudang satkorlak. Padahal ketika gempa besar tahun 2000, Bengkulu mendapatkan bantuan puluhan ribu tenda. Kemana sebagian besarnya? Wajar jika kemudian Gubernur Agusrin ’disegak’ oleh presiden karena terlalu membesarkan jumlah permintaan sarung dan tenda. Indonesia secara umum juga memiliki masalah akut dengan pendataan. Makanya, jangan heran jika terjadi kesimpangsiuran jumlah kerusakan, korban dan lainnya.

Tetapi, sayangnya pengalaman bencana tidak selalu melahirkan kerifan sosial. Selalu saja ada orang yang mencari keuntungan pribadi di atas penderitaan orang lain. Dalam suasana duka, “masih ada tangan yang tega berbuat nista”, ujar Ebiet G. Ade. Karena itu, mari kita kebelakangkan sifat manipulatif dalam diri kita. Bukan hanya para pemimpin dan pejabat, tetapi juga masyarakat kebanyakan. Pendataan harus dilakukan secara objektif. Atau, ketika bantuan ditujukan kepada kita tapi kita tidak terlalu membutuhkan, berikanlah untuk orang lain.

Kita merasakan gempa, tetapi mungkin tidak merasakan derita jiwa saudara kita yang rumahnya roboh, atau yang mengungsi karena potensi tsunami. Tetapi, pengalaman ini cukup rasanya untuk membuat kita menyingkirkan sejenak penyakit jiwa kita.

Wallahu’alam bishowab.

Yansen, Warga Bengkulu biasa.

Advertisements

Written by yansenbengkulu

October 27, 2008 at 5:44 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: