Indonesia Green Chronicle

Yansen – University of Bengkulu and James Cook University

Jurang aplikasi

leave a comment »

Harian Bengkulu Ekspress, September 2007

Ada pertanyaan besar di kepala banyak orang Indonesia: Mengapa etik moral dan agama tidak menggejewantah dalam sikap hidup sebagai bangsa? Padahal kita terkenal sebagai bangsa yang religius. Bahkan, ateisme tidak mendapat tempat di negara Pancasila ini. Secara kasat mata, kehidupan religius semakin meningkat di masyarakat Indonesia. Jika bisa dijadikan sebagai salah satu indikator, lagu-lagu dengan tema religi laris manis di blantika musik Indonesia. Jilbab pun sudah menjadi barang umum. Sesuatu yang jarang tidak kita temui pada tahun 80-an, atau bahkan awal 90-an.

Tapi, dalam praktik nyata, semangat religius ini seringkali dikesampingkan. Jika menilik pada indeks persepsi korupsi (CPI) yang baru saja dirilis oleh Transparansi Internasional, terlihat bahwa Indonesia masih termasuk negara dengan korupsi yang parah. Walaupun tidak menjadi negara terkorup, tapi Indonesia tetap berada pada jajaran negara dengan tingkat korupsi tinggi. Lalu, mengapa semangat agama tidak mampu meredam ini?


Ada juga pengalaman menarik ketika penulis mengakses situs e-bay, sebuah situs jual beli online internasional. Di situs ini dapat dibeli berbagai macam barang atau kita dapat menawarkan barang. Penjual dan pembeli hanya berhubungan secara online. Barang akan dikirim ke alamat pembeli. Ketika melakukan penawaran terhadap barang tertentu, penulis menemukan hal yang cukup menjengkelkan sekaligus membuat miris. Banyak penjual yang membuat announcenment bahwa mereka tidak melayani pembeli dari dan kiriman ke Indonesia. Memang tidak hanya Indonesia, ada negara-negara lain, terutama Afrika, tetapi Indonesia hampir muncul di semua pengumuman para penjual tersebut. Pada awalnya penulis berpikir apakah ini disebabkan karena banyak komplain berkaitan dengan jasa pengiriman barang oleh Pos Indonesia. Ternyata tidak. Setelah diselidiki lebih jauh, ternyata alasan mereka tidak melayani pembeli Indonesia karena tingginya kejahatan kartu kredit (credit card fraud). Rupanya Indonesia pun sudah punya reputasi dalam hal ini.

Hal-hal di atas baru beberapa contoh. Kalau diteruskan, daftar tersebut akan semakin bertambah panjang. Padahal, ada banyak ajaran agama yang bukan hanya sebagai ibadah kepada Tuhan, tetapi juga mengajarkan ratusan nilai-nilai. Dalam konteks Islam, misalnya, ibadah puasa mengajarkan nilai-nilai kejujuran hakiki. Tetapi, latihan kejujuran yang dilakukan sebulan penuh tersebut tidak berbekas pada kehidupan nyata. Bahkan, Idul Fitri diiringi dengan ucapan-ucapan yang mengejukkan hati dan ajakan-ajakan menuju nilai-nilai sejati. Tetapi, slogan tinggal slogan. Ia hanya jadi pemanis bibir ketimbang menjadi acuan kehidupan dunia.

Ternyata, ada jurang antara idealitas dan realitas, antara nilai hakiki dan aplikasi, das sein dan das solen. Ujungnya, semangat religiositas tidak berujung pada kemaslahatan sosial. Kalau ditanyakan kepada Talcott Parsons, ia akan menjawab “itulah funsionalisme imperatif”. Menurut Talcott Parsons, kejahatan harus ada sebagai bagian fungsional adanya kebaikan. Tanpa adanya kejahatan, kebaikan tidak akan dapat diidentifikasi. Secara berkelakar, Jalaluddin Rahmat mengatakan, orang jahat harus ada, supaya tetap ada polisi.Tapi, apakah ini menyelesaikan masalah?

Di Indonesia, sikap manipulatif dan koruptif sudah mendarah daging. Bukan hanya pada level pejabat, tetapi juga level rakyat. Makanya, jangan heran jika pemerintah pusat perlu melakukan cek ulang data gempa Bengkulu, karena tidak percaya begitu saja dengan laporan pemerintah daerah. Bahkan, lembaga swadaya masyarakat pun tidak jelas akuntabilitasnya.

Etik moral dan agama memang bersifat pribadi. Tetapi, ia harus menjadi sikap komunal. Karena itu, ia harus terlembaga dan mewarnai sistem kehidupan berbangsa. Tanpa ini, sistem hukum kita, misalnya, akan selalu mengandung celah-celah penyimpangan. Parahnya, celah-celah penyimpangan itu terus diciptakan dan dipelihara. Ketika ini terjadi, maka jangan mengharapkan perbaikan dan kebangkitan akan singgah di negeri ini.

Advertisements

Written by yansenbengkulu

October 27, 2008 at 6:48 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: