Indonesia Green Chronicle

Yansen – University of Bengkulu and James Cook University

Kampus tanpa tradisi ilmiah

leave a comment »

Perguruan tingi merupakan sasana adiluhung pembangunan manusia. Ia adalah kawah candra dimuka penyiapan manusia-manusia handal masa depan. Karena itu, perguruan tinggi tidak hanya dituntut untuk mengabdi pada kepentingan ilmu pengetahuan dan teknologi (devotee of science and technology) tetapi juga harus memperjuangkan cita-cita luhur manusia dan kemanusiaan (devotee of ideas and values). Maka tak heran jika bangsa ini berharap banyak dari sarjana yang dilahirkan oleh lembaga perguruan tinggi.

Tapi, banyak hal yang membuat kita miris jika melihat kondisi kampus di Indonesia dewasa ini. Jangankan menghasilkan calon-calon pemimpin masyarakat yang berkualitas, perguruan tinggi kita masih terseok-seok meningkatkan kapasitas lulusan dalam konteks kelimuan. Jangankan menguasai banyak bidang kehidupan yang membuat para sarjana lentur dengan realitas kehidupan, bidang ilmu sendiri pun acapkali tak secara sempurna dipahami. Alhasil, universitas yang seharusnya menghasilkan sarjana yang universal, seringkali hanya memproduksi lulusan yang fakultatif.


Hal yang sungguh terasa pada saat ini adalah matinya suasana akademis di perguruan tinggi kita. Hal ini sangat mudah untuk dilacak. Coba saja perbandingkan persentase kedatangan mahasiswa pada pentas musik dan diskusi ilmiah. Sudah sangat istimewa jika diskusi ilmiah didatangi oleh sepuluh persen mahasiswa yang mendatangi pentas musik atau menonton kejuaraan olahraga di kampus. Alhasil, pusat mahasiswa sudah bergeser dari perpustakaan ke kantin-kantin kampus, dari ruang-ruang kelas ke emperan kampus.

Kita tidak mengatakan bahwa mahasiswa tidak boleh datang ke pentas musik atau duduk-duduk di kantin. Tapi, jika secara kuantitatif dan kualitatif fokus mahasiswa lebih pada hal-hal non-akademis, sungguh sesuatu yang patut dikhawatirkan. Lebih parahnya lagi, mahasiswa cenderung tidak berpikir banyak tentang konteks kelimuan yang harus digarapnya. Sejatinya, tradisi ilmiah haruslah menjadi budaya utama di kampus. Kalaupun ada kegiatan-kegiatan lain yang sifatnya non-akademis, maka itu hanyalah penunjang. Kalau ini terus dibiarkan, kampus-kampus kita akan menjadi kampus-kampus tanpa tradisi ilmiah.

Kecenderungan pendidikan yang mekanistis ditenggarai menjadi salah satu penyebab bencana ini. Pendidikan yang sangat berorientasi kepada kerja membuat mahasiswa dibayangi ‘hantu status’. Ketika pertama kali menginjakkan kakinya diperguruan tinggi, mahasiswa lebih berorientasi pada status kesarjanaan dan bayangan pekerjaan yang akan didapat dengan status itu. Ketika ternyata status yang diinginkan tidak terpenuhi dengan hanya mengandalkan gelar, segala cara pun ditempuh, walapun harus mengangkangi nilai luhur dunia akademis yang menjunjung tinggi kejujuran.

Berorientasi pada status dan pekerjaan bukanlah sebuah dosa. Apalagi jika didapatkan secara sungguh-sungguh. Tapi sebuah ironi apabila orientasi status menjadikan mahasiswa tidak mau dan mampu berpikir kritis. “Cari aman dan selamat,” adalah jampi resmi mahasiswa saat ini. Ujungnya, titip tanda tangan, ketidakjujuran dalam ujian, penjiplakan skripsi akan menjadi tontonan umum. Padahal, plagiarisme adalah dosa tanpa ampun dalam dunia akademis. Sudah jadi rahasia umum bahwa banyak penelitian mahasiswa atau (mungkin) dosen hanyalah jiplakan dari penelitian sebelumnya dengan sedikit modifikasi pada perlakuan ataupun objek penelitian. Betul jika kita membutuhkan referensi untuk penelitian, tetapi plagiarisme adalah tindakan yang tak dapat ditoleransi. David Robinson, ketika terbukti melakukan plagiarisme terhadap hasil penelitian mahasiswanya, tidak hanya dipecat dari jabatannya sebagai Vice-Chancellor Monash University, tetapi juga dicabut gelar Profesornya. Jadi, plagiarisme sama saja dengan kematian karir akademik.

Berkenaan dengan dosen, sering muncul rasa puas diri terhadap apa yang telah dilakukan. Alhasil, penelitian hanya dinikmati sendiri. Kalaupun ditulis di jurnal ilmiah, hanyalah sekedar sarana untuk mendapatkan angka kredit. Sedikit keinginan untuk saling berbagi informasi tentang penelitian. Jadinya, hal tersebut hanyalah seperti onani intelektual: dibuat sendiri, dicetak sendiri dan akhirnya dinikmati sendiri.

Apalagi kalau kita bertanya kualitas bacaan dan penelusuran literatur mahasiswa. Tidak akan habis sepuluh jari untuk menyebut rata-rata buku dalam bidang ilmu yang dibaca oleh para mahasiswa, apalagi buku-buku dalam bidang lain. Konsekuensinya, mereka pun tetap berpikiran primitif dan tidak kritis.

Ironisnya, semangat ini ternyata diamini oleh pengelola universitas. Sebagai contoh, kuliah-kuliah substantif yang menumbuhkan kepekaan keilmuan mahasiswa, semisal Mata Kuliah Filsafat Ilmu, akan dengan mudahnya disingkirkan dan diganti dengan komunikasi yang lebih praktis misalnya. Alasan, kemampuan komunikasi lebih berguna untuk mencari kerja ketimbang pemahaman akan makna keilmuan.

Maka, jangan kecewa jika kampus tidak berhasil menelurkan sarjana dengan kualitas akademis yang universal dan mumpuni. Karena, perguruan tinggi tidaklah lagi menjadi tempat mengasah kemampuan analisis. Kampus juga bukan lagi sebuah tempat melemparkan pertanyaan-pertanyaan ontologis. Ia telah berubah menjadi pabrik produksi massal baru yang menghasilkan sarjana yang saklek, bukan sarjana yang lentur dengan kondisi zaman.

Advertisements

Written by yansenbengkulu

October 27, 2008 at 6:45 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: