Indonesia Green Chronicle

Yansen – University of Bengkulu and James Cook University

Katakan dengan warna

leave a comment »

Harian Bengkulu Ekspress, Oktober 2007

Say it with rose, katakan dengan bunga (mawar), kata orang Inggris. Idiom ini bermakna menyatakan sesuatu dengan hal yang disukai. Makanya orang-orang barat menggunakan bunga sebagai perlambang kebaikan dan kasih sayang. Mereka memberi bunga ketika menjenguk orang sakit dan menyatakan cinta. Tapi, hari-hari ini, Kota Bengkulu punya semboyan yang sedikit berbeda. ”Katakan dengan warna,” itulah mottonya. Mengapa? Coba arahkan mata anda, segenap penjuru kota di penuhi oleh warna-warni spanduk, bendera dan poster para calon walikota. Ada putih, merah, biru, kuning dan warna-warna lainnya. Para calon walikota dan pendukungnya seakan-akan berlomba mewarnai kota. Jadilah masa kampanye sebagai ’pesta warna’.

Ternyata, ekspresi warna adalah salah satu kebudayaan tertua manusia. Ternyata juga, sebuah warna bisa mempunyai makna yang berbeda-beda pada setiap kebudayaan. Setiap bangsa pun mempunyai warna favorit. Indonesia, negara yang kita cintai ini, memuja warna merah dan putih. Merah adalah simbol keberanian dan putih berarti suci, kata para founding fathers. Bangsa Rusia, walaupun diselimuti salju, juga memuja warna merah. Merah berarti cantik bagi mereka. Makanya, ’gadis merah’ (krassnaja devochka) berarti gadis yang menawan. Lapangan Merah yang sudah ada sebelum komunisme pun bermakna ’lapangan yang indah’. Walaupun banyak yang menyukai warna merah, seperti untuk pewarna bibir dan kuku, merah juga bisa berarti negatif. Dalam dunia pewayangan, warna merah identik dengan kedurjanaan. Bahkan, orang yang sedang emosi pun dikatakan bermuka merah (padam).


Sedangkan putih berasosiasi dengan kesucian. Makanya, mukena muslimah di Indonesia berwarna putih, walaupun muslimah dari bangsa-bangsa lain sholat dengan pakaian beragam warna. Putih juga diterjemahkan sebagai ketundukan. Bendera putih adalah simbol menyerah. Ternyata, pada mulanya putih bagi bangsa timur malah bermakna kesedihan. Karenanya, warna berkabung bagi kebanyakan orang timur adalah putih, bukan hitam. Hitam adalah warna berkabung bangsa barat. Itulah mungkin mengapa kain penutup mayat orang timur berwarna putih.

Warna-warna lain tentu memiliki maknanya masing-masing. Setiap kelompok yang mengidentikkan dirinya dengan warna tertentu, pasti memiliki keterikatan emosional dengannya. Tidak tertutup kemungkinan warna itu menjadi simbol ideologi perjuangan yang dihayati dalam dirinya. Walaupun demikian, ada baiknya tetap menghormati orang lain yang mengagumi warna berbeda. Mereka juga harus menghargai perbedaan penghayatan terhadap warna yang sama.

Tapi, jarang yang menjadikan warna hitam sebagai simbol. Mungkin karena hitam identik dengan kegelapan, kebrutalan dan kesedihan. Hitam adalah lambang pemberontakan. Padahal, bagi sebagian kebudayaan, terutama barat, hitam berarti sesuatu yang formal dan resmi. Makanya, warna standar jas adalah hitam atau warna gelap. Mungkin ini dipengaruhi oleh iklim mereka yang dingin, sehingga perlu jas gelap dan tebal. Karena Indonesia beriklim tropis dan panas, agak lucu juga melihat banyak orang Indonesia yang memakai jas di siang bolong.

Karena saat ini ada banyak warna yang berlomba, kita dapat memilih mana yang kita sukai. Singkatnya, ”pilihlah warna yang diyakini oleh hati,” adalah jampi yang mumpuni. Sayang saya tak begitu menikmati pesta warna ini, karena saya mengidap colour blindness (walaupun hanya parsial).

Advertisements

Written by yansenbengkulu

October 27, 2008 at 6:32 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: