Indonesia Green Chronicle

Yansen – University of Bengkulu and James Cook University

Krisis lingkungan dan tugas kemanusiaan

leave a comment »

DetikCom, 1 Agustus 2008

Dunia baru saja merayakan Hari Lingkungan Hidup, namun krisis lingkungan nampaknya semakin nyata di depan nyata. Bukan hanya krisis lingkungan yang distimulasi oleh aktivitas manusia, semisal polusi dan perubahan iklim karena efek rumah kaca, tapi juga ketidakmampuan mengantisipasi dan menangani dampak bencana alam. Kemandulan ini semakin ditumpulkan oleh kepentingan politik. Baru saja kita menyaksikan kegagalan junta militer Burma untuk mengantisipasi kehilangan jiwa manusia karena Cyclone Nargis. Lebih menyedihkan lagi ketika mereka menolak uluran tangan internasional. Alhasil, kematian berlipat ganda hanya karena tidak cukup penganganan pasca bencana. Kediktatoran telah gagal melindungi nyawa warga negaranya.

Tapi jangan salah, Indonesia juga tak mempunyai rekor yang baik. Setelah dihentak oleh tsunami Aceh yang meminta puluhan ribu nyawa, kita seakan tersadar bahwa manajemen bencana yang lebih baik sangat dibutuhkan. Namun apa daya, tumpukan masalah membuat penanganan bencana dan lingkungan terpinggirkan lagi. Alih-alih manajemen yang baik, latihan evakuasi malah menimbulkan kepanikan. Early warning system untuk tsunami juga tak dijaga kesinambungannya.

Hal di atas baru satu catatan. Catatan lain misalnya masalah Lapindo. Setelah dua tahun tak ada kepastian seperti apa penyelesaian bencana ini. Masyarakat semakin putus asa mengharapkan keadilan untuk mereka. Tapi, tak seperti bencana lainnya yang hilang tertutupi bencana lain Lapindo tidak akan mudah lenyap begitu saja. Luapan lumpur yang semakin meluas tidak bisa dibiarkan begitu saja.

State of denial yang sepertinya diterapkan pemerintah tak akan menghasilkan apa-apa. Malahan ini dapat berubah menjadi frustasi sosial. Bukanlah pemerintahan yang baik jika gagal melindungi warga negaranya.

Secara global, perubahan iklim mungkin merupakan isu lingkungan utama saat ini. Setelah lebih dari satu dekade kelahiran Konvensi PBB tentang Perubahan Iklim tahun 1992, masyarakat dunia semakin percaya akan kepastian isu ini. Kekeringan di banyak bagian dunia diyakini sebagai dampak langsung dari perubahan iklim.

Tak urung Al Gore ikut ambil bagian dalam kampanye global dengan menjadi the climate crusader. Bahkan, “climate changes is the most severe problem we are facing today, more serious than the threat of terrorism”, ujar David King, ilmuwan terkemuka Inggris.

Sesungguhnya ujung semua ini adalah fakta bahwa bumi kita semakin tua dan ringkih. Pernyataan bersama Royal Society of London dan Academic Science of America pada 1992 dalam Population Growth, Resource Comsumption and a Sustainable World, menggarisbawahi bahwa perubahan lingkungan yang mengganggu bumi mungkin menyebabkan daya dukung bumi semakin menurun dalam menopang kehiduan manusia. Planet habitat manusia, hewan dan tumbuhan ini membutuhkan perhatian yang serius agar mampu terus menopang kehidupan diatasnya.

Konsumerisme dan Beban Lingkungan
Kemiskinan sering kali identik dengan pengrusakan lingkungan. Masyarakat miskin di dunia ketiga sering dianggap sebagai biang keladi masalah lingkungan. Perambahan hutan Indonesia, misalnya, yang menyebabkan kerusakan hutan yang parah ditenggarai dilakukan oleh masyarakat ekonomi lemah.

Tapi, apakah meningkatnya kesejahteraan penduduk dunia berakibat positif pada lingkungan? Mungkin. Kita menyaksikan negara-negara makmur semakin memperhatikan lingkungan hidup. Back to nature merupakan tema yang sudah berkumandang lebih dari satu dekade. Namun, benarkah demikian?

Ternyata tidak juga. Kemakmuran mungkin malah menyebabkan masalah lingkungan yang lebih parah. Lebih banyak sumber daya yang dibutuhkan untuk mendukung kehidupan orang berada. Tapak ekologi masyarakat negara maju jauh melebihi kapasitas dukung lingkungan mereka. Akhirnya terjadi defisit ekologi. Defisit ini kemudian ditutupi dari sumber daya negara lain. Terutama negara berkembang.

Konsekuensinya, negara-negara miskin berada pada posisi dilematis. Mereka tidak hanya menderita kerusakan lingkungan karena kemiskinan, tapi juga efek tak langsung dari pemenuhan kebutuhan negara maju. Padahal kecenderungannya, tingkat konsumsi dunia semakin meninggi.

Apa yang terjadi adalah ketidakseimbangan global. Hal ini tidak hanya berimplikasi pada ketidakadilan distribusi sumberdaya ekonomi. Tapi, juga ketidakseimbangan beban lingkungan. “Karena itu harus dimunculkan tanggung jawab bersama”, ujar David Shearman dan Joseph Wayne Smith dalam Climate Challenges and the Failure of Democracy (2007).

Revitalisasi Tugas Kemanusiaan
Jika kediktatoran mempunyai rekor buruk dalam masalah lingkungan, demokrasi liberal juga gagal menyelamatkan bumi, kata David Shearman dan Joseph Wayne Smith. Demokrasi liberal dengan fondasi dasar kebebasan individu tidak menyelamatkan jika tidak ada kesadaran, keadilan dan tanggung jawab global. Karena itu, kita harus berprinsip “the world is my country”, kata Ronnie Lipschutz dalam Global Environmental Politics (2005).

Inilah sebenarnya konsep kepemimpinan manusia terhadap alam: kesadaran untuk memakmurkan dunia. Karena itu, menjadikan dunia tempat yang nyaman dihuni adalah bagian esensi tugas kemanusiaan. Ketiadaan kesadaran, keadilan dan tanggung jawab global merupakan pokok pangkal kemasalahan dunia. Bahkan, lebih jauh, menuju dunia yang berkeadilan dan berkemakmuran merupakan panggilan agama.

Sebagai panggilan tugas kemanusiaan dan agama masyarakat beragama harus mengambil inisiatif dalam menginisiasi hidup bersahabat dengan alam. Sayangnya, kenyataan menunjukkan hal yang bertolak belakang. Pengelolaan lingkungan di negara-negara yang notabene mengagungkan nilai agama bisa dikatakan bangkrut. Indonesia, sebagai contoh nyata. Sangat tertinggal dalam konsep penataan lingkungan. Eksploitasi tak terkendali sumber daya alam sangat berdampak buruk pada masa depan bangsa ini.Termasuk lingkungan hidupnya.

Kita harus mampu menembus ruang waktu untuk mengkomprehensi kondisi masa datang. Perspektif jangka pendek hanya akan membuat beban berat di pundak generasi setelah kita. Kita sudah cukup merasakan bagaimana kesalahan manajemen bangsa pada masa lalu harus kita pikul pada saat ini.

Advertisements

Written by yansenbengkulu

October 27, 2008 at 7:17 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: