Indonesia Green Chronicle

Yansen – University of Bengkulu and James Cook University

Miskalkulasi lembaga survey

leave a comment »

Menyimak hasil pilkada terkahir di beberapa daerah, muncul hal-hal di luar dugaan. Tokoh muda, relatif belum berpengalaman dan didukung oleh hanya ‘partai kecil’ memenangkan pemilihan. Tokoh terkenal, incumbent, dan bahkan mantan menteri terjungkal. “Populer tapi tidak menang,” ujar Jeffrie Geovani. Ini kejutan pertama. Kejutan kedua, gagalnya prediksi lembaga-lembaga survei. Jika pada pilkada Sulawesi Selatan yang lalu, memang ada dua versi polling dengan perkiraan yang menang berbeda-beda, pada kasus Jawa Barat, tokoh yang menang adalah yang tidak diduga bakal menang sebelumnya oleh semua versi survei. Hal yang sebangun terjadi di Sumatera Utara. Ada apa ini? Apakah survei tidak mampu memprediksi atau ada perubahan perilaku pemilih? Akankah ini menjadi pintu awal kematian politik kuantitatif?

Perjalanan politik kuantitatif di Indonesia memang masih seumur jagung. Di usia yang muda ini, dengan instrumen utama survei/polling dan quick count, perkembangan politik kuantitatif ini masih diiringi oleh kontreversi. Masih jelas diingatan kita tentang polemik sekitar perhitungan cepat yang mengiringi riak pemilu 2004. Tak tanggung-tanggung, Kwik Kian Gie ketika itu mensinyalir ada agenda asing. Karena sebagian besar pelakunya ketika itu doktor politik lulusan Ohio State University, William Liddle pun merasa tersudutkan.


Gugatan saat ini agak berbeda. Setelah menuai sukses di pilpres 2004 dan beberapa pilkada sebelumnya, survei menjadi sorotan, terutama oleh pihak yang diprediksi menang tapi kemudian kalah. Agum Gumelar, Cagub Jawa Barat yang kalah, mengungkapkan hal tersebut. “Lembaga survei harus mampu menjelaskan, mengapa yang diprediksi menang awalnya, tapi kemudian kalah”, demikian katanyanya. Ucapan Agung Gumelar ini bermakna ganda sebenarnya. Di satu sisi memang mempertanyakan kemampuan lembaga survei. Tapi di sisi lain, ia sebenarnya secara implisit mempertanyakan proses penyelenggaraan pilkada: adakah kecurangan di sana?

Lalu, apa yang terjadi sebenarnya? Mengapa lembaga survei tak mampu menduga secara betul? Beberapa hal mungkin jadi penyebabnya. Pertama, dalam penelitian dikenal prinsip sampel dan populasi. Penelitian dilakukan untuk mengetahui keadaan populasi. Jika mungkin dilakukan, maka akan dilakukan sensus—mengamati seluruh populasi tanpa terkecuali. Tetapi, ketika sensus tidak mungkin dilaksanakan, berkembanglah prinsip sampel—apa yang kita ambil, dan sampling—bagaimana mengambilnya. Penggunaan prinsip sampel dalam kaidah ilmiah adalah bentuk efisiensi. Dengan mengeluarkan sumberdaya minimal—uang, waktu dan tenaga, keadaan populasi sebenarnya dapat diprediksi. Ini sudah menjadi frame standar dalam dunia penelitian.

Jadi, dalam kaidah ilmiah, kedudukan sample akan selalu dibawah populasi. Ketika hasil polling, yang notabene merupakan hasil perhitungan sample dihadapkan dengan hasil perhitungan KPU, yang merupakan perhitungan populasi—meskipun ada kecurangan, tidak akan berdaya sama sekali. Dengan mudahnya orang akan berkata bahwa prediksi survei meleset. Ketidakcocokan antara hasil pengamatan sampel dan populasi sesungguhnya sangat mungkin terjadi, walaupun kaidah penelitian diikuti secara benar. Pada beberapa primaries Partai Demokrat di AS juga mengalami hal serupa. Di beberapa negara bagian yang dimenangkan Obama malah sebelumnya diprediksi akan dikuasai oleh Hillary Clinton.

Karena itu, polling tidak bisa dijadikan indikator kecurangan pemilu. Hal yang sama juga berlaku bagi quick count. Walaupun sampai saat ini quick count secara umum memprediksi hasil secara benar, pendugaan yang salah sangat mungkin terjadi. Dengan logika sample-populasi, data hasil perhitungan cepat tidak akan berdaya terhadap data resmi KPU. Jika dilihat dari beberapa waktu yang lalu, para pelaku quick count dengan bangga mengungkapkan keberhasilan mereka dalam memprediksikan pencapaian suara. Margin error pun rata-rata hanya 1 persen. Tapi, muncul pertanyaan, apakah data quick count yang menjadi pembanding data KPU atau data KPU menjadi pembanding data hasil quick count. Pada akhirnya, perhitungan cepat sama sekali tidak bisa menjadi kontrol terhadap terhadap hasil perhitungan resmi. Jika terjadi perbedaan, para pelaksana quick count tidak akan berani mengatakan data mereka yang lebih valid.

Faktor kedua miskalkulasi survei adalah cara pandang terhadap hasil survei dan jarak waktu antara survei dan pemilihan. Saiful Munjani, Direktur LSI, mengatakan bahwa lembaga survei hanya memberi data. Jika pemilihan dilakukan pada saat survei, maka yang akan menang adalah si A. Tinggal kemudian bagaimana para calon bersama timnya menyikapi hasil survei. Inilah yang kemudian menjadi tantangannya. Selanjutnya, hal yang terjadi bisa jadi dua hal: proaktif atau puas diri. Jika pihak yang diprediksi menang kemudian berpuas diri dan tidak bekerja keras, disinilah masalahnya. Di lain pihak, kelompok yang diprediksi kalah, berkonsilidasi secara masif dan memanfaatkan waktu yang tersisa. Alhasil, mereka bisa membalikkan keadaan.

Hal yang koheren terlihat pada pilkada Jakarta yang lalu. Walaupun memang diprediksi menang, Fauzi Bowo tidaklah menang secara mudah dan besar. Sebelum pemilihan, Fauzi Bowo diramal bakal menang besar dengan persentase mencapai 70 persen. Ramalan ini sangat wajar, jika mengingat ia didukung oleh 21 partai. Apa yang terjadi kemudian, Adang Dorojatun mampu mendongkrak capaian suara menjadi 45 persen. Kenaikan 15 persen merupakan hal yang spektakuler. Sekali lagi, hasil sangat tergantung dari penyikapan terhadap pendugaan.

Survei hanyalah alat, ia bisa dimanipulasi, bahkan dipesan. Survei bisa dimanfaatkan untuk mobilisasi dukungan. Lembaga survei yang dibayar oleh kelompok tertentu akan berusaha menyenangkan kelompok yang membayarnya. Singkatnya, sesungguhnya yang lebih baik dilakukan adalah melihat hasil survei kelompok independen dan kemudian bersikap proaktif terhadap hasilnya.

Advertisements

Written by yansenbengkulu

October 27, 2008 at 6:53 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: