Indonesia Green Chronicle

Yansen – University of Bengkulu and James Cook University

Modus kehidupan

leave a comment »

Harian Bengkulu Ekspress, September 2007

Erich Fromm, generasi kedua Frankfurt School, membelah modus kehidupan manusia menjadi dua: ‘modus menjadi’ (being mode) dan ‘modus memiliki’ (having mode). Jalaluddin Rakhmat kemudian menyibak secara ringkas dan sederhana tentang dua modus ini. Orang-orang dengan ‘modus memiliki’ berorientasi inilah milikku. Rumah mewah didirikan bukanlah sebagai kebutuhan akan rumah yang besar karena memiliki anggota keluarga yang banyak. Tapi, hanya sekedar menunjukkan bahwa ia memiliki rumah mewah. Alhasil, benda menjadi tempat menitipkan prestise, harga diri, dan bahkan kehormatan. Tapi, orang dengan “modus menjadi” melihat fundamental nilai dibalik ini. Fungsionalitas: benarkah benda ini dibutuhkan? Apakah memang saya membutuhkan mobil, misalnya, untuk menunjang aktivitas atau hanya unjuk gigi bahwa saya memiliki banyak uang. Modus kehidupan ini lebih berorientasi pada nilai-nilai hakiki.

Menuju kehidupan yang bernurani merupakan usaha untuk menggeser paradigma dari ‘modus memiliki’ menjadi ‘modus menjadi’, dari penampakan artifisal ke pemahaman substansial. Untuk mengubah ini diperlukan kekuatan untuk menguasai nafsu.


Manusia hebat adalah yang mampu mengeluarkan dirinya dari ketidakberdayaan dalam penjara jalan angkara, jalan nafsu. Mengorbankan kesenangan diri merupakan salah satu jawabannya. Ajaran Budha mengungkapkan tentang jalan samsara—kesusahan, menuju darma sejati. Pertapaan merupakan bentuk penyengsaraan diri menuju kebahagiaan sejati. Puasa dalam ajaran Islam juga merupakan simbologi penyucian diri. Tujuannya, tidak menjadikan dunia puncak keinginan, apalagi menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.

Dunia adalah perspektif. Bagaimana cara melihat dan merespon dunia menghasilkan umpan balik pada kehidupan kita. Sebagaimana layaknya manusia berjiwa, kita seringkali terseret oleh arus perspektif manusia lain terhadap dunia. Ketika orang tersenyum kepada kita, kita akan dengan mudahnya tersenyum dengan orang tersebut. Ketika seseorang memberi sesuatu, akan mudah bagi kita membalas kebaikan orang tersebut. Tetapi, tentu tak mudah tersenyum kepada orang yang melukai perasaan, melecehkan atau menghancurkan reputasi kita. Berat rasanya memberi kepada orang yang tak suka berbagi.

Alhasil, kebaikan pun menjadi conditional. “Saya akan berbuat baik, jika….” Apakah ini kebaikan yang dimaksud Tuhan? Tentu tidak! Kebaikan seharusnya tak bermusim dan tak tergantung suasana hati. Inilah yang diungkapkan oleh Stephen Covey, begawan motivasi diri, dalam magnum opus-nya Seven Habits of Highly Effective People sebagai sikap ‘proaktif’ yang merupakan antitesis sikap ‘reaktif’. Sikap proaktif adalah sikap mewarnai dan mengubah lingkungan. Ketika orang cemberut kepada kita, tak usah diambil hati. Jikalau kita terlalu memikirkannya, hati akan menjadi susah. Ujungnya, timbul buruk sangka.

Advertisements

Written by yansenbengkulu

October 27, 2008 at 6:50 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: