Indonesia Green Chronicle

Yansen – University of Bengkulu and James Cook University

(Mungkin) gempa lagi

leave a comment »

Bengkulu Ekspress, Oktober 2007

Ada saat dimana pengetahuan tidak memberikan penjelasan mutlak terhadap sebuah masalah. Inilah ketika pengetahuan menemui jalan buntu. Pengetahuan yang dikategorikan pasti pun menjadi tidak pasti. Ternyata, kebenaran pengetahuan manusia bersifat relatif. Proses mendapatkan pengetahuan terdiri dari tiga hal pokok: ontologis, epistimologi dan aksiologi. Ontologis adalah apa yang dicari. Epistemologi adalah metode mencari pengetahuan. Sedangkan aksiologi bermakna untuk apa pengetahuan yang didapat.

Pertanyaan-pertanyaan ontologis tentang fenomena alam membuat banyak orang berpikir. Lalu lahirlah para ilmuwan. Pertanyaan-pertanyaan itu kemudian membuat para ilmuwan mengembangkan metode untuk mencari jawaban dan kesimpulan. Kemudian berkembanglah metode deduksi dan induksi sebagai pendekatan utama. Pada perkembangan lanjut, muncul klasifikasi ilmu, semisal ilmu pasti dan ilmu soial.


Kita mengangap, misalnya, Matematika adalah ilmu pasti. Argumennya sederhana, 6 ditambah 6 pasti sama dengan 12. Apakah memang demikian? Ternyata tidak juga. Konklusi di atas betul jika kita menggunakan skala penghitungan dengan digit tertinggi 9. Bagaimana jika kita menyepakati skala penghitungan dengan digit tertinggi 6. Tentu jawabnya 15. Makanya, ilmu adalah kesepakatan.

Jika anda tanya kepada ilmuwan sosial tentang resep memperbaiki keadaan Bangsa Indonesia, maka akan ada puluhan teori yang dikemukakan. Ada ratusan argumen yang dijelaskan. Ada ribuan contoh kasus yang diajukan.

Demikian juga dengan geoteknologi. Terminologi ini menjadi akrab dengan kita setelah peristiwa gempa bumi. Istilah ini menggabungkan antara geologi dan teknologi. Sebagai sebuah ilmu, geoteknologi mempelajari pergerakan bumi, termasuk lempeng, dan aspek-aspeknya. Dengan mengamati pola, siklus dan perilaku gempa, para ahli ilmu ini memprediksi kejadian-kejadian gempa. Prediksi terbaru mengungkapkan bahwa Patahan Mentawai belum bergerak. Jika patahan ini bergerak, maka akan terjadi gempa yang diperkirakan sangat besar. Tetapi, jika ditanyakan kapan terjadinya, tak seorang pun yang berani memastikan.

Gempa, terutama tektonik, memang gejala alam yang unik dan mengandung misteri. Karena itu, sikap dan manajemen terhadap bencana ini bisa dikatakan rumit. Ketidak pastian kapan terjadinya membuat tidak begitu banyak hal yang bisa diperbuat. Ternyata ada lorong gelap dibalik penjelasan ilmiah. Inilah yang dinamakan kebuntuan ilmu pengetahuan, scientific deadlock. Karena itu kondisinya menjadi dilematis. Bahkan, ketika ada orang yang berani mengatakan kapan terjadinya, seperti surat dari ilmuwan Brazil yang beredar belakangan ini, ia tidak memberikan ketenangan. Malah ia menimbulkan keresahan baru, antara pasti dan tak pasti.

Karena itu, jika urutan pengetahuan adalah ontologis (apa), epistimologi (bagaimana) dan aksiologi (untuk apa), maka dibalik konklusi seharusnya muncul lagi pertanyaan ontologis–apa dibalik ini. Atau bahkan subjektif–siapa dibalik ini. Lalu sebatas manakah ilmu bisa menjelajah? Karena itu, ketika terjadi scientific deadlock, ada Subjek (dengan ’S’ besar) utama. Seringkali ilmuwan hanya berhenti pada subjek-subjek (’s’ kecil) antara. Maka, ada baiknya ketika ini terjadi kita mengembalikan semuanya pada subjek utama alam semesta, yakni Tuhan yang maha kuasa.

Keyakinan tentang entitas ketuhanan ini sangat dibutuhkan. Hal ini membuat ilmuwan bekerja pada koridor yang benar. Makanya, Einstein menyebutkan ilmu tanpa (bimbingan moral) agama adalah buta. Tanpa bimbingan ini, yang muncul adalah arogansi ilmu dan penggunaan ilmu untuk hal yang negatif. Nuklir adalah contohnya. Ia bisa menjadi sumber energi alternatif, tapi nuklir juga bisa menjadi senjata pembunuh massal paling menkautkan. Disamping itu, keyakinan akan entitas ketuhanan juga dibutuhkan oleh khalayak banyak sebagai pengguna ilmu. Dengannya, masyarakat tidak hanya menggantungkan pada kemampuan rasional manusia, tapi juga hal-hal irasional diluar kekuatan manusia. Demikian hendaknya kita berharap sikap masyarakat kita terhadap gempa.

Advertisements

Written by yansenbengkulu

October 27, 2008 at 6:28 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: