Indonesia Green Chronicle

Yansen – University of Bengkulu and James Cook University

Nasionalisme tak bernyawa

leave a comment »

Yansen, Bengkulu, Opini

Sebagai orang Indonesia, banyak kita mungkin tak pernah memikirkan apa sebenarnya makna menjadi orang Indonesia. Garis takdir terlahir di zamrud khatulistiwa ini dijadikan sebagai sesuatu yang taken for granted. Rutinitas hidup menjadikan kontemplasi diri sebagai bangsa tak dianggap penting. Cukuplah renungan nasionalisme itu dilakukan oleh intelektual, jadi jualan para politisi atau cerita perayaan kemerdekaan setiap Agustus seperti saat ini. Kemudian muncullah apa yang disebut oleh Michael Billig (1995) sebagai banal nationalism, nasionalisme biasa, tak bertenaga dan tak bernyawa.

Nasionalisme, kata Anthony Giddens (1985), adalah fenomena yang utamanya bersifat psikologis. Suasana psikologis ini diciptakan dari fondasi kebersamaan. Penumbuhan rasa kebangsaan kemudian diikuti perjalanan panjang mencari identitas nasional. Tapi, apa yang dimaksud dengan jati diri nasional seringkali tak terdefinisi secara jelas dan terseret ke wilayah politis. Kelompok berkuasa seringkali memaksakan identitas kebangsaan tanpa proses dialektika yang memadai. Alhasil, identitas nasional bukanlah merupakan sebuah konsensus bersama yang bersifat kultural, tapi hanya sekedar wacana politik penguasa yang dipaksakan. Ini kemudian memunculkan pemaksaan wacana eksistensi nasionalisme negara tanpa pemaknaan terhadap esensi kebersamaan sebagai bangsa.


Dalam kondisi kemapanan, sentimen nasionalisme hanya muncul ketika perasaan aman ontologis terganggu jika rutinitas terusik. Maka jangan heran, jika permasalahan perbatasan wilayah akan memacu adrenalin nasionalisme. Bahkan, urusan ‘sepele’ semacam rebutan otoritas kebudayaan dengan negara tetangga menjadi pemantik potensial munculnya nasionalisme karbitan. Namun, sekali lagi mengutip Anthony Giddens, itu hanyalah gejala hot nasionalist passion.

Gejala nasionalisme rutinitas ini ternyata sangat dipahami oleh dua presiden pertama. Eksperimen menggelorakan semangat perlawanan terhadap kapitalisme barat dijadikan senjata utama Presiden Sukarno dalam memimpin bangsa ketika itu. “Revolusi belum selesai,” demikian ucapnya berulang-ulang. Eksperimen serupa tapi tak sama diulang oleh Presiden Suharto. Dengan menjadikan komunisme sebagai musuh bersama, semangat nasionalisme dibangun dengan mengandalkan keberhasilan pembangunan. Namun, apa ujungnya. Eksperimen tersebut malah berubah menjadi politik manipulasi dan penebaran ketakutan. Terlihat efektif pada awalnya, namun menyimpan penyakit akut yang menimpa generasi sesudahnya.

Gejala terakhir menunjukkan bahwa rasa kebangsaan semakin terkikis. Kita semakin terkotak-kotak kedalam garis primordialisme yang tak produktif. Masyarakat sangat rentan dengan isu dan adu domba. Konflik horizontal sangat mudah disulut. Kekalahan satu seorang calon dalam pilkada misalnya, dapat meletup menjadi kerusuhan destruktif yang dibumbui dengan embel-embel primodialisme. Tak heran jika isu putra daerah menjadi salah satu hal yang paling empuk dijual ketika berkampanye menjadi kepala daerah.

Jika begini, imajinasi kebersamaan yang dijembatani oleh sebuah perasaan kolektif sebagai Bangsa Indonesia semakin tergerus. Ruang bangsa menjadi semakin sempit. Wawasan nusantara tererosi menjadi wawasan kewilayahan. Masing-masing kita kemudian merasa sebagai pewaris sah daerah dan kesukuan. Kecurigaan terhadap pendatang menjadi buahnya. Berita penolakan terhadap trasnmigrans di beberapa daerah menjadi contoh miris, padahal sebagian mereka adalah korban bencana. Solidaritas nasional kita layak dipertanyakan.

Padahal, ketika spektrum global menjadi seakan tak berbatas, nasionalisme menemukan tantangannya yang paling besar. Bangsa ini kemudian menemui aral terbesar sepanjang sejarahnya. Di satu sisi, desakan globalisasi mengharuskan kita lebih berhati-hati dan pandai di percaturan dunia. Namun di sisi lain, kita menghadapi penyempitan solidaritas kebangsaan yang kontra-produktif. Imajinasi kebangsaan yang telah dibangun lebih setengah abad, pada ujungnya bukan hanya gagal menjadi realitas, tapi bahkan berubah menjadi mimpi buruk.

Seiring dengan bertambah kompleksnya permasalahan bangsa, keluhan terhadap arah perjalanan bangsa yang besar ini juga semakin mengemuka. Masalahnya, ketika keluhan semakin bertambah, tak tampak arah penyelesaiannya. Para politisi hanya berjuang demi citra. Konsekuensinya, muncul sikap skeptis terhadap masa depan. Disinilah kita memaknai ucapan Jusuf Kalla yang meminta tak hanya berkeluh kesah dan hanya melihat keburukan bangsa.

Kebangsaan di simpang jalan

Krisis kenegaraan yang sudah berlangsung satu dekade ini sebenarnya menyimpan potensi ganda. Ketakutan akan masa depan bangsa memang merupakan hal yang lumrah. Bayang-bayang menjadi negara gagal bahkan sempat mengemuka. Namun, sesungguhnya inilah waktu yang tepat untuk melakukan konsolidasi kebangsaan. Jika dikelola secara baik, krisis kenegaraan akan memunculkan perasaan kebangsaan yang kuat.

Pernasalahan terbesar negara ini sebenarnya terletak pada politisasi seluruh aspek kehidupan berbangsa. Cita-cita masyarakat madani, misalnya, lebih beraspek politis. Elemen-elemen masyarakat sipil pada akhirnya bermuara pada satu elemen: partai politik. Semuanya menceburkan diri dalam politik. Dialog kebangsaan akhirnya tidak menimbulkan gelombang kesadaran kenusantaraan, tapi malah menjadi kotak-kotak ideologis yang semakin terpecah.

Maka, kegagalan wacana kebangsaan yang bersifat politis haruslah melahirkan kesadaran untuk membangun konsensus kultural kebangsaan. Solidaritas kebangsaan harus lebih digalakkan di ranah publik, bukan sekedar wacana politik. Disinilah kita melihat keharusan memunculkan altruisme kebangsaan. Semangat berkorban dan spirit Indonesia baru harus memberikan nyawa pada nasionalisme yang ringkih.

Sebagaimana jiwa manusia, nyawa kebangsaan harus dilahirkan dari manusia-manusia baru Indonesia. Jika nasionalis Italia abad 19, Massimo d’Azeglio, sekali berkata, “kita telah melahirkan Italia, sekarang kita harus menciptakan orang Italia,” kita pun harus bertekad, “Indonesia baru telah lahir, mari kita ciptakan orang Indonesia baru.”

Advertisements

Written by yansenbengkulu

October 27, 2008 at 7:24 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: