Indonesia Green Chronicle

Yansen – University of Bengkulu and James Cook University

Olimpiade Beijing dan masa depan iklim

leave a comment »

Yansen, Queensland, Opini

Cina sedang menjadi primadona baru. Analisis dipenuhi kajian-kajian tentang perjalanan keberhasilan reformasi ekonomi, sekaligus politik, di negeri tirai bambu ini. ‘Jalan Cina’ menjadi acuan bagi negara-negara berkembang lainnya.

Sepanjang Agustus ini, mata dunia kembali tertuju ke Cina. Penyelenggaraan Olimpiade 2008 mengarahkan bermilyar pasang mata menyaksikan perjuangan duta bangsa-bangsa dunia berlaga di Beijing. Sebagaimana Jepang dan Korea Selatan yang menjadi tuan rumah Piala Dunia 2002, Cina menjadikan even ini sebagai gerbang menuju modernitas. Olimpiade dijadikan sarana melapangkan jalan negara berpenduduk 1,4 milyar ini sejajar dengan dunia barat.


Mengalahkan Toronto, Paris dan Istanbul pada tahun 2001, penunjukan Beijing sebagai tuan rumah Olimpiade 2008 menyisakan kontroversi, terutama masalah hak asasi manusia dan pencemaran lingkungan. Namun, Komite Olimpiade International (IOC) menuturkan bahwa penunjukan Beijing sangat positif, terutama bagi Asia sebagai kawasan yang belum pernah menyelenggarakan even ini. Li Lan-Qing, wakil Perdana Menteri Cina, ketika proposal mereka diterima tahun 2001 mengatakan, “Kemenangan tawaran Olimpiade 2008 merupakan pengakuan internasional terhadap stabiltas sosial, kemajuan ekonomi, dan hidup yang sehat masyarakat Cina”. Ketika itu Cina mengusung tema New Beijing, Great Olympics.

Kontroversi masih berlanjut hingga Olimpiade berlangsung. Protes menuntut kebebasan HAM di Cina, terutama yang berkaitan dengan Tibet, masih berlangsung. Kasus anyar yang menimpa jurnalis Inggris, John Ray, menimbulkan banyak kecaman. Sang wartawan ditahan oleh keamanan Cina karena mengambil gambar gerakan protes pro Tibet.

Masalah lainnya adalah pencemaran lingkungan. Perkembangan masif ekonomi Cina bukan tanpa harga. Industrialisasi negeri ini melahirkan konsekuensi lingkungan yang besar, termasuk polusi udara. Sebagai salah satu masalah yang muncul ketika pengajuan tawaran, Pemerintah Cina menjanjikan akan mengurangi tingkat pencemaran udara jika Beijing dijadikan tuan rumah olimpiade. Ada kekhawatiran akan pengaruh buruknya kualitas udara terhadap atlit yang bertanding.

Usaha keras memang dilakukan oleh Pemerintah Cina. Sebelum Olimpiade, Pemerintah Cina telah memindahkan lebih dari 200 pabrik keluar Beijing. Saat ini, mereka juga melarang jutaan mobil beroperasi di Beijing. Jauh sebelum Olimpiade, Kementerian Lingkungan Cina sudah menjalankan Program Blue Sky Days, yang mengukur tingkat polusi yang dapat diterima. Walaupun masih dipenuhi kritik tentang standar yang di bawah aturan WHO, usaha ini menampakkan hasil.

Namun, emisi karbon Cina secara keseluruhan sesungguhnya meningkat secara dramatis dalam lima tahun terakhir. Laporan penelitian Maximilian Auffhammer dan Richard T. Carson (2007), dari Universitas California, menunjukkan bahwa tingkat keluaran karbon Cina sudah melesat menjadi nomor dua di bawah Amerika Serikat yang telah menjadi pengemisi terbesar sejak 1890. Bandingkan dengan laporan International Environmental Agency (IEA) tahun 1997, dimana emisi karbon Cina hanya 2,1 ton per kapita. Saat itu, negara ini berada jauh di bawah negara maju semisal Amerika Serikat, Kanada, Australia, Arab Saudi dan Jepang. Padahal, output karbon Amerika Serikat ketika itu sudah mencapai 19,8 ton per kapita.

One world, one dream

Upaya Cina mensukseskan Olimpiade tahun ini patut diacungkan jempol. Acara pembukaan dianggap sebagai yang paling spektakuler sepanjang sejarah. Saat pembukaan, ilmuwan cuaca Cina menembakkan berpuluh-puluh roket untuk mengusir awan gelap yang berpotensi hujan dan menutupi pandangan. Kualitas udara di Beijing pun tampak membaik.

Namun, pelaksanaan Beijing Olympics semestinya tidak hanya bermanfaat sesaat bagi lingkungan, tapi lebih jangka panjang. Even ini seharusnya dijadikan momentum untuk mendesakkan agenda penurunan emisi terhadap Cina sebagai bagian mencegah pemanasan global.

Keengganan Cina, dan juga India, untuk meratifikasi Protokol Kyoto dan terlibat aktif dalam pembicaraan komitmen perubahan iklim selalu dijadikan alasan oleh Amerika Serikat untuk juga menolak Protokol Kyoto. Negara-negara pengemisi terbesar ini sepertinya menerapkan kebijakan bussiness as usual.

Cina bahkan baru saja meratifikasi kebijakan penurunan emisi karbon yang no target and time-tables. Memang disadari bahwa target penurunan emisi karbon akan berdampak sangat besar bagi ekonomi negara-negara pengemisi terbesar. Namun, mengingkari keberadaan masalah perubahan iklim tidak akan berujung baik bagi masa depan planet ini. Jika Amerika Serikat selalu berargumen tidak terlibatnya Cina dan India, dua negara ini berkeyakinan bahwa pemanasan global disebabkan oleh negara barat. Karenanya, barat yang harus bertanggung jawab. Bahkan Manmohan Singh, Perdana Menteri India, mengatakan bahwa mereka punya hak yang sama dengan negara-negara maju untuk mengemisi karbon ke atmosfer.

Namun, saling melempar tanggung jawab tak akan menyelesaikan masalah. Permasalahan lingkungan dunia harus ditangani bersama-sama. Makanya harus dimunculkan tanggung jawab bersama, ujar David Shearman dan Joseph Wayne Smith dalam Climate Challenges and the Failure of Democracy (2007).

Sebagaimana tema Olimpiade Beijing One World, One Dream, kita harus memimpikan dan mengupayakan planet bumi menjadi dunia bersama yang nyaman ditinggali. Termasuk untuk anak cucu kita di masa depan.

Dosen Ilmu Lingkungan Universitas Bengkulu, dan Australian Leadership Award Scholar

Advertisements

Written by yansenbengkulu

October 27, 2008 at 7:22 pm

Posted in Environment, Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: