Indonesia Green Chronicle

Yansen – University of Bengkulu and James Cook University

Shorcuts

leave a comment »

Bengkulu Ekspress, September 2007

Ketika melakukan sesuatu, kita berharap melakukannya semudah mungkin dengan hasil yang optimal. Ini adalah hal yang wajar jika dilakukan secara benar. Itulah jalan pintas. Pada komputer ditemui banyak shortcuts (jalan pintas) pada screen. Shortcuts ini memudahkan pemakai mengakses program-program yang diinginkan. Para pengguna komputer sangat terbantu dengan ini.

Tetapi, ketika budaya jalan pintas berubah dan cenderung negatif, ia pun jadi masalah. Ketika sekolah dan kuliah, anak-anak kita terbiasa mencontek. Tanpa belajar mereka berharap dapat nilai yang baik. Makanya jangan heran jika di kelas mahasiswa, jumlah yang tidak berbuat curang dapat dihitung dengan jari. Ketika berkompetisi mencari kerja, jalan pintas pun dicari. Alhasil, ketika tes calon pegawai negeri sipil (CPNS) diumumkan, bukan persiapan logis, semisal persipan pengetahuan, yang disiapkan, tapi mencari koneksi. Begitu juga ketika berusaha memperebutkan jabatan.

Tanpa disadari, semakin lama budaya ini semakin terpatri dalam struktur pemikiran masyarakat. Ujungnya, masyarakat menilai inilah yang harus diikuti. Jangan terpana jika sebagian besar masyarakat percaya bahwa tes CPNS tidak akan bersih. Mereka pun yakin bahwa kelulusan membutuhkan jalan belakang.


Lalu, pertanyaan yang muncul kemudian mengapa ini terjadi? Ambivalensi nilai mungkin salah satu penyebab hal ini. Ada kesenjangan antara nilai hakiki dengan praktik pada kehidupan riil. Jika bekerja keras, maka seharusnya orang mendapatkan apa yang diinginkan. Tapi kenyataannya tidak. Seorang pegawai negeri yang baik dan bekerja keras belum tentu mendapatkan promosi ke jabatan yang lebih baik. Di Indonesia, hubungan persaudaran dan perkoncoan lebih merupakan jalan yang lebih ampuh. Makanya, banyak PNS yang ikut mendukung calon walikota atau gubernur dalam rangka mendapatkan jabatan.

Ketika nilai-nilai ideal tidak terjegewantahkan dalam kehidupan, apalagi penyimpangan-penyimpangan itu diketahui publik secara luas, timbul frustasi-frustasi sosial. Kemudian yang tumbuh subur adalah pragmatisme. Sayangnya, ketika sebagian besar masyarakat tidak bisa mengubah nilai tersebut, yang terjadi malah sebaliknya. Terjadi arus besar yang mengikuti pragmatisme tersebut. Alhasil yang muncul adalah individualisme. Lu lu gue gue. Tabrak kanan kiri. Halal haram hantam. Yang terpenting “saya” yang dapat, tak peduli orang lain. Jika anda berkendaraan di jalan raya, anda akan merasakan manifestasi sifat ini.

Jika kemudian ukuran yang digunakan adalah materialisme, maka uang menjadi panglima. Kesuksesan dan keberhasilan selalu dinisbatkan kepada ukuran-ukuran materi. Rumah mewah, kendaraan bagus menjadi ukuran prestise. Tak perduli cara mendapatkannya. Kebanyakan kita pun, pada ujungnya menjadi Machiavelian—menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu. Kita pun bangsa timur yang menjadi lebih materialistis dan individualis dari bangsa barat yang kapitalis.

Masalahnya, jalan yang benar tidak menyelesaikan masalah. Jika ingin mendapatkan surat izin mengemudi (SIM), misalnya, melalui prosedur yang benar, bisa jadi kita tidak akan mendapatkannya. Tes CPNS pun tidak bisa hanya mengandalkan otak. Alhasil, percaloan tumbuh dengan suburnya. Akhirnya, kita pun menjadi bangsa yang bermental calo. Kita lebih suka mengimpor beras dan barang kebutuhan lainnya ketimbang berusaha memenuhi kebutuhan sendiri. Pemikirannya sederhana, tanpa usaha yang terlalu keras kita sudah bisa mendapatkan uang dari selisih harga beli dan jual. Inilah yang membuat kita sampai saat ini bahkan tidak punya motor dan mobil nasional. Sungguh ironi.

Tanpa keinginan untuk mengubah budaya jalan pintas, bangsa ini hanya akan berjalan di tempat. Karena itu, harus ada gerakan memerangi jalan pintas negatif. Kalau tidak, anak cucu kita hanya akan bisa membaca, “Dulu ada sebuah bangsa besar,……”.

Advertisements

Written by yansenbengkulu

October 27, 2008 at 6:41 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: