Indonesia Green Chronicle

Yansen – University of Bengkulu and James Cook University

Tugu

leave a comment »

Bengkulu Ekspress, Agustus 2007

Kata “tugu” sepertinya mempunyai tempat tersendiri di masyarakat Kota Bengkulu. Kemunculan kata ini selalu berujung dengan kontroversi. Tahun lalu, misalnya, kita disuguhi perdebatan mengenai renovasi tugu di Simpang Lima. Perdebatan itu melibatkan banyak komponen yang terbelah menjadi dua kubu. Kubu pertama menginginkan patung Bung Karno dan Ibu Fatmawati yang dibangun. Sedangkan kubu kedua menginginkan patung kuda menjadi landmark di Simpang Lima. Masing-masing punya argumen, walaupun kemudian yang menang adalah “pasukan” kuda.

Beberapa waktu terakhir, tugu kembali menjadi headline. Keinginan pihak pemerintah kota untuk merenovasi tugu tabot dan tugu perjuangan ditentang banyak kalangan. Pihak pemerintah kota menginginkan Tugu Adipura didirikan sebagai pengingat keberhasilan Kota Bengkulu meraih Piala Adipura tiga kali berturut-turut. Tapi, pihak lain mengajukan keberatan dengan dibongkarnya Tugu Tabot yang merupakan penghormatan terhadap budaya. Apalagi tugu perjuangan yang merupakan apresiasi terhadap perjuangan merebut kemerdekaan. Mereka juga mengungkapkan memenangi Piala Adipura tidaklah berarti banyak dan ironi dengan keadaan yang sesungguhnya.


Tingkat kemanfaatan bangunan berupa tugu atau monumen memang layak diperdebatkan. Ia dibangun hanyalah sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan manusia akan hal-hal yang bersifat transenden dibaliknya. Nilai dibalik inilah yang menjadi pangkal perdebatan bentuk tugu yang mesti dibangun. Bagi banyak pihak, tugu yang akan dibangun akan lebih berguna jika ia mengandung nilai yang layak dijunjung. Itu pulalah yang kemudian membuat keputusan kadang bernuansa politis. Tetapi, dalam konteks tata ruang kota, bangunan seperti itu adalah usaha mempercantik kota. Karenanya penampilan luar menjadi penting. Atas dasar ini, tentulah bentuk yang menarik mata yang menjadi pilihan. Tugu dengan air mancur dan sorotan lampu, misalnya, mungkin menjadi pilihan.

Lalu mana yang penting: penampakan atau substansi; kulit atau isi; bentuk atau filosofi. Ini merupakan perdebatan klasik tak berujung. Untuk mencapai isi, kita harus membuka kulit, ungkap Master Echart, sang pewarta kebaikan. Tapi, “Apalah arti sebuah nama,” ungkap Shakespare, pujangga Inggris. “Mawar tetaplah mawar. Keharumannya takkan berkurang walaupun kita tak menyebutnya mawar,” ujarnya lagi.

Bengkulu mungkin perlu Tugu Adipura untuk mengingatkan pentingnya nilai lingkungan. Tetapi, alangkah ruginya anggaran yang dikeluarkan jika hanya sekedar untuk kepentingan politik sesaat. Kita juga mungkin masih membutuhkan Tugu Tabot dan tugu perjuangan semisal Tugu Garuda. Tetapi, tanpa keinginan untuk menghayati nilai dibalik itu, semua tugu yang ada takkan berguna. Monumen adalah benda mati yang tak bersumbangsih apapun tanpa keinginan mencari makna dibaliknya.

Maka, bagi kebanyakan orang, Tugu Tabot ataupun Tugu Adipura tak terlalu bermasalah. Tapi menjadi masalah jika menjadi perdebatan berkepanjangan yang tak berguna. Tak elok terlalu sibuk dengan urusan “sepele.” Ada segudang masalah lain yang harus dipecahkan dan butuh energi besar. Alangkah baiknya jika energi tersebut digunakan untuk melayani rakyat yang semakin tak kuasa menanggung beban dunia.

Advertisements

Written by yansenbengkulu

October 27, 2008 at 6:25 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: