Indonesia Green Chronicle

Yansen – University of Bengkulu and James Cook University

Pendidikan dan riset

leave a comment »

Harian Republika, 29 Oktober 2008

Comstech (Committee on Scientific and Technological Cooperation) baru-baru ini mengeluarkan Wise Index of Leading Scientists and Engineer. Ini adalah sebuah daftar yang memuat nama para ilmuwan dan akademisi terdepan di berbagai bidang dari negara-negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI). Indeks ini didapatkan terutama dari citation index, yakni seberapa tinggi hasil penelitian ilmuwan yang bersangkutan dirujuk oleh peneliti-peneliti lain. Tentu saja, indeks ini meningkat dengan semakin banyaknya publikasi yang dilakukan oleh sang peneliti.

Indonesia menyumbang enam ilmuwan dalam daftar ini: Tiga di bidang Fisika, dua medis dan satu ilmu Kimia. Masuknya enam ilmuwan Indonesia dalam daftar ini sangat membanggakan, sekaligus juga menyedihkan. Ini seperti oase di tengah gurun. Dalam himpitan permasalahan dunia pendidikan yang seakan tak berujung, masih ada para akademisi negeri ini yang mampu menyodok papan atas ilmuwan dunia, setidaknya ilmuwan dari negara-negara anggota OKI. Namun, angka enam adalah angka yang menyedihkan. Kalau kita menegok ke Asia daratan, Bangladesh mampu memasukkan lebih banyak sarjana mereka dalam daftar itu. Tak perlu jauh-jauh, 27 orang akademisi Malaysia masuk dalam daftar ini. Apalagi jika dibandingkan dengan Pakistan yang menyumbang sangat banyak sarjananya.

Dari daftar urutan universitas yang baru saja dikeluarkan oleh Times Higher Education Magazine-QS (THE-QS), urutan universitas di Indonesia juga tidak mengesankan. Tiga universitas besar negeri ini, yakni UI, ITB dan UGM, hanya mampu bertengger di kisaran angka 300. Bandingkan dengan National University of Singapore yang bertengger di posisi 30. Atau, Chulalongkorn University di Thailand yang mampu menembus deretan 200 universitas dunia. Jika tiga universitas raksasa Indonesia saja begini, tentu sudah bisa diduga universitas menengah dan kecil lainnya di penjuru nusantara.

Rendahnya ranking universitas di Indonesia dan sedikitnya ilmuwan yang masuk ke daftar Comstech tadi sebagian besar disebabkan oleh iklim penelitian yang tak berkembang. Lalu, apakah sebabnya? Mungkin banyak hal, tapi satu hal penting dan harus ditanggulangi adalah diseminasi dan komunikasi hasil penelitian. Jika kita melihat dari indeks yang dikeluarkan oleh Comstech tadi, maka jelas nama-nama itu muncul berkat publikasi mereka di jurnal-jurnal ilmiah berskala internasional. Disinilah letak pokok hambatannya: sangat sedikit sekali peneliti Indonesia yang mempublikasikan hasil risetnya di jurnal-jurnal berskala internasional.

Lalu mengapa demikian, apakah penelitian para sarjana kita tidak berkualitas? Tidak juga. Sangat banyak penelitian berkualitas yang dilakukan peneliti-peneliti kita. Masalahnya, banyak dari mereka yang tidak percaya diri untuk mempublikasikan hasil temuannya di dunia internasional. Hal ini disebabkan oleh beberapa kendala. Kendala pertama adalah bahasa. Semua jurnal berskala internasional saat ini berbahasa Inggris. Karena itu, kemampuan Bahasa Inggris menjadi prasyarat wajib. Tapi, masalah ini sebenarnya dapat diatasi dengan menggunakan jasa penterjemah profesional ataupun riset bersama-sama dengan orang yang bisa berbahasa Inggris.

Kendala kedua yang lebih penting adalah kurangnya referensi. Dunia penelitian adalah dunia bersambung. Merujuk kepada penelitian-penelitian sebelumnya merupakan hal yang tak terhindari. Bisa dihitung dengan jari universitas di Indonesia yang berlangganan jurnal internasional. Alhasil, para peneliti kita tak mampu mengikuti perkembangan pengetahuan di bidang mereka. Di level nasional saja, hasil-hasil penelitian yang ada juga tak terdeseminasi secara baik dan luas. Jurnal ilmiah sangat kurang jumlahnya. Bahkan ada kecenderungan, menulis di jurnal ilmiah sekedar sarana untuk mendapatkan angka kredit bagi peneliti yang berstatus pegawai fungsional. Tidak ada keinginan saling berbagi informasi tentang penelitian. Bahkan hingga kini, tak ada satupun jurnal imiah berbasis di Indonesia yang berskala internasional.

Ini kemudian berujung pada hal buruk lainnya: penjiplakan dan repetisi. Penjiplakan ide atau penelitian menjadi barang lumrah karena penelitian yang sudah ada tak terpublikasi secara baik. Penelitian pun seringkali bersifat berulang-ulang, karena para ilmuwan di bidang yang sama tak mengetahui apa yang sedang dikerjakan oleh koleganya dari wilayah Indonesia yang lain. Alhasil, banyak penelitian yang dihasilkan tak bisa diverifikasi. Padahal verifikasi adalah satu dari tiga kaki pokok keilmuan yang bersifat logiko-hipotetiko-verifikatif.

Anggaran pendidikan 2009 yang mencapai 200 triliun jangan disia-siakan. Angka ini bukanlah angka yang kecil. Jika tak mampu menjadi fondasi perbaikan dunia pendidikan tentu sangat mengecewakan. Anggaran ini harus tepat guna dan menyelesaikan masalah-masalah pokok pendidikan, termasuk riset.

Dalam konteks dunia riset, Ditjen Pendidikan Tinggi sudah menggelontorkan dana-dana penelitian yang bersifat hibah kompetisi ke universitas-universitas. Hibah-hibah dalam berbagai skala dan level ini sangat membantu para akademisi melakukan penelitian-penelitian. Hal ini sudah berjalan baik, walaupun mungkin perlu perbaikan di sana-sini. Namun, seperti yang diungkapkan di atas, inisiatif untuk diseminasi hasil masih menjadi masalah. Makanya, menurut saya harus ada langkah konkrit mengatasi ini. Ada dua hal yang dapat dilakukan.

Pertama, anggaran pendidikan yang besar ini harus mampu memfasilitasi penyebaran hasil penelitian dalam jurnal-jurnal nasional ke seluruh universitas di Indonesia. Teknologi internet tentunya semakin mempermudah usaha ini. Inisiatif ini akan membuat komunikasi penelitian sesama peneliti akan berkembang. Dikti juga harus mampu mendorong jurnal-jurnal prospektif untuk berkembang menjadi jurnal skala internasional.

Kedua, anggaran pendidikan yang ditujukan untuk pengembangan koleksi referensi harus diperbesar. Pengisian perpustakaan di universitas-universitas dengan buku-buku muktahir harus diprioritaskan. Insentif untuk membantu lembaga pendidikan berlangganan jurnal interasional harus diberikan. Saat ini ada banyak layanan databases yang menyediakan akses ke ratusan jurnal internasional dalam pelbagai bidang dan dapat diakses secara online. Mengusahakan universitas-universitas di Indonesia berlangganan databases ini akan memberikan fondasi kuat meningkatkan dunia penelitian di Indonesia.

Jika dilakukan, yakinlah ini dapat menjadi tapak baru dalam cita-cita menjadikan universitas di negeri ini sebagai centre of excelence. Pada ujungnya kita dapat pelan-pelan bangkit dari keterpurukan dan menjadi bangsa besar di dunia.

Advertisements

Written by yansenbengkulu

October 28, 2008 at 6:35 am

Posted in Education, Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: