Indonesia Green Chronicle

Yansen – University of Bengkulu and James Cook University

Komitmen menyelamatkan Sumatera

with one comment

Dalam kongres Konservasi Dunia IUCN di Barcelona, Oktober lalu, pemerintah daerah provinsi-provinsi di Sumatera mengeluarkan pernyataan bersama: Save Sumatra! Pernyataan bersama yang disebut bersejarah dan pertama ini berisi komitmen kuat pemerintah untuk menyelamatkan ekosistem hutan yang kritis di pulau ini.

Komitmen ini mendapat dukungan penuh dari dari lembaga non-pemerintah kelas dunia World Wide Fund for Nature (WWF). Secara khusus WWF mengeluarkan petisi dukungan atas inisiatif ini. Petisi ini diharapkan mampu memberikan dukungan moral bagi pemerintah untuk bekerja keras menyelamatkan keragaman hayati di pulau ini.

Ekosistem terancam

Pernyataan ini secara khusus menggarisbawahi laju kehilangan areal hutan yang luas di Pulau Sumatera, mencapai 85 persen sejak tahun 1985. Di samping itu, kerentanan ekosistem gambut yang mencapai 13 persen dari total ekosistem yang tersisa juga menjadi catatan penting. Sebagai sumber karbon, pembukaan hutan gambut ini akan meningkatkan laju emisi karbon. Padahal saat ini, karena laju deforestasi, Indonesia telah menjadi salah satu negara pengemisi karbon terbesar. Karena itu, penyelamatan hutan Sumatera diyakini berkontribusi nyata terhadap mitigasi perubahan iklim.

Keunikan ekosistem pulau ini sebenarnya telah diakui secara nasional, dan bahkan internasional. Ada sebelas taman nasional terdapat di Pulau Sumatera, membujur dari Aceh sampai ke Lampung. Tiga taman nasional, yakni Taman Nasional Gunung Leuser, Kerinci Seblat dan Bukit Barisan Selatan telah ditetapkan sebagai World Heritage. Sebagai World Heritage, maka sesungguhnya taman-taman nasional tersebut sudah menjadi milik international, dan menjadi tanggung jawab global untuk menyelamatkannya.

Kompleksitas masalah

Namun, masalah konservasi alam di Indonesia memang kompleks. Sebagai masyarakat agraris, ketergantungan terhadap ketersediaan lahan merupakan tantangan utama. Meningkatnya laju pertumbuhan populasi dan kebutuhan lahan pertanian menjadi salah satu penyebab perambahan hutan. Tuntutan kebutuhan ekonomi juga menjadi pemicu maraknya illegal logging. Hal ini diperparah dengan ketidakberdayaan aparat pemerintah untuk mencegah dan menuntaskan kasus-kasus pembalakan haram.

Degradasi hutan juga disebabkan oleh perusahaan-perusahaan yang berkepentingan. Perusahaan konsesi hutan yang berjaya sampai akhir dekade 90-an masih meninggalkan sisa kerusakan hutan yang parah. Belum lagi kalau kita mendaftar kasus degradasi hutan yang disebabkan oleh aktivitas pertambangan. Ekspansi kelapa sawit juga menjadikan masalah kian tak mudah dipecahkan. Dalam periode 1995-2004 saja, laju pembukaan lahan sawit di Indonesia mencapai 362.000 ha per tahun, yang hampir semuanya berada di Sumatera dan Kalimantan.

Kerjasama regional menangani konservasi hutan juga masih tak mulus. Banyaknya taman nasional di Pulau Sumatera yang meliputi administrasi beberapa provinsi harusnya menumbuhkan kesadaran untuk membangun kerjasama lintas daerah. Inisiasi kerjasama regional ini sebenarnya sudah pernah dicoba, namun lebih bersifat top down. Pada tahun 1999, Bank Dunia meluncurkan program Integrated Conservation and Development Project (ICDP) dalam kurun enam tahun di Taman Nasional Kerinci Seblat. Proyek ini melibatkan pemerintah daerah di tiga Provinsi: Bengkulu, Jambi dan Sumatera Barat. Proyek ini bertujuan mengintegrasikan program konservasi dan pembangunan serta meningkatkan kerjasama regional menyelamatkan ekosistem hutan tropis.

Namun hasilnya tak memuaskan. Laporan kegiatan menunjukkan kecilnya hubungan antara investasi pembangunan dengan konservasi keragaman hayati, yang merupakan fokus kegiatan. Laju kehilangan hutan terbesar malah terjadi di daerah Kerinci (Jambi) dan Solok (Sumatera Barat) yang padahal menerima hibah paling besar. Saling pengertian timbal balik antar pemerintah daerah juga tak terbangun dengan baik. Alhasil, tak ada follow up dari kegiatan ini.

Beberapa kasus terakhir juga menunjukkan komitmen pemerintah daerah untuk menyelamatkan ekosistem hutan patut diragukan. Mereka jauh lebih tergiur untuk mengubah ekosistem yang dilindungi untuk kepentingan ekonomi sesaat. Kasus penyuapan yang melibatkan Sekretaris Daerah Kepulauan Bintan dan anggota DPR RI Al-Amin Nasution, terkait pengubahan status hutan lindung secara illegal, adalah contoh nyata. Hal serupa juga terjadi di Sumatera Selatan. Ekosistem mangrove yang kritis dan sangat penting secara ekologis dapat dikorbankan demi pembangunan pelabuhan internasional. Sekali lagi, ini pun melibatkan skandal suap menyuap aparat pemerintah dan legislatif. Di Bengkulu, aparat pemerintah terlibat dalam kasus illegal logging.

Tak cukup hanya komitmen politik

Karena itu, komitmen politik saja tidak cukup untuk menyelamatkan ekosistem Sumatera. Apalagi jika komitmen ini dibuat hanya sebagai jalan mendatangkan hibah internasional. Bantuan internasional memang sesuatu yang tak salah dan sangat diharapkan. Namun, kita harus mampu menunjukkan usaha keras di atas kaki sendiri untuk menyelamatkan halaman sendiri. Semestinya, komitmen yang telah dibangun harus diimplementasikan secara mandiri tanpa uluran tangan terlebih dahulu. Pemerintah harus beusaha menerapkan sistem perencaaan wilayah yang mengacu pada kesatuan wilayah ekologis.

Di samping itu, karena masalah konservasi di Indonesia lebih bersifat sosial daripada teknis, fokus konservasi harus diselaraskan dengan fokus pemecahan masalah sosial ekonomi masyarakat. Kesejahteraan sosial harus menjadi prioritas. Pemberdayaan masyarakat menjadi salah satu kunci. Aparatur pemerintah sampai ke level bawah, karenanya, harus mampu menjadi agen-agen pemberdayaan masyarakat. Komitmen yang baik harus diikuti usaha yang keras agar tercapai.

Advertisements

Written by yansenbengkulu

November 20, 2008 at 1:53 pm

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. SALAM SUKSES SELALU

    kami adalah perusahaan yang bergerak di bidang pertanian, perikanan, peternakan, tanaman hias menawarkan pupuk hayati dengan merk “MIG”(Pengembangan dari SMS AGROBOST). Untuk bapak, besar harapan kami untuk sekiranya bapak mau bergabung… dan mensejahterakan petani bersama kami

    Salam kami,MIG Corp JATIM

    M.syahid 031-3959773 / 087852053777

    ym:migroplus@yahoo.com

    GTalk:msyahid@gmail.com

    http://www.migrow.com

    migroplus

    November 25, 2008 at 5:51 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: