Indonesia Green Chronicle

Yansen – University of Bengkulu and James Cook University

Krisis ekonomi, perubahan iklim dan natural capitalism

leave a comment »

This is the Indonesian translation of the post “Eco-efficiency and natural capitalism

Krisis keuangan global tampaknya belum akan mereda dalam waktu dekat. Resesi pun semakin meluas. Krisis finasial dunia yang sedang terjadi semakin menegaskan bahwa dunia ini memang tak berbatas. Kita hidup di sebuah global village yang ujungnya terlihat dari ujung yang lain. Tak heran jika kelimpungan ekonomi sebuah negara, apalagi negara adidaya, menarik gerbong kebangkrutan di seluruh dunia. Bahkan, petani-petani kecil di pelosok nusantara pun terimbas dengan rontoknya harga komoditi pertanian. Thomas L. Friedman dalam buku larisnya The World is flat menyatakan bahwa di era globalisasi, pembagian-pembagian historis dan geografis seakan tak berlaku. Karena itu, Friedman menyebutkan bahwa sebuah bangsa harus meningkatkan daya kompetisinya untuk bisa bertahan. burning-globe4

Sudah lebih dulu berkumandang, dalam dua dekade terakhir dunia pun disuguhi berbagai prediksi tentang ancaman perubahan iklim. Tema ini bahkan digarap dengan serius oleh PBB. Tahun 1992, lembaga dunia ini telah mengeluarkan Konvensi Kerangka Perubahan Iklim PBB. Konvensi ini kemudian diikuti oleh pertemuan-pertemuan para pihak (conference of parties (COP)). Banyak inisiatif telah dimunculkan, seperti Protokol Kyoto dan Clean Development Mechanism (CDM). Dalam COP 13 tahun lalu di Bali diluncurkan Bali Road Map dan skema Reducing Emissions from Deforestation dan Forest Degradation (REDD). COP 14 yang baru saja berakhir 12 Desember lalu di Poznan, Polandia, ditutup tanpa hasil yang menggembirakan.

Perjalanan diplomasi antar bangsa tentang langkah global penyelamatan bumi memang masih panjang. Kepastian isu perubahan iklim ini pun masih didebat oleh banyak pihak. Namun, kalaupun masih banyak perdebatan tentang kenyataan perubahan iklim, setidaknya kerusakan lingkungan karena aktivitas manusia sudah menjadi krisis nyata. Karena itu tak berlebihan jika dikatakan, sekali lagi mengutip Thomas L. Friedman dalam buku terbarunya, dunia tidak lagi hanya flat, datar, tapi sudah hot, flat and crowded.

Inilah sesungguhnya saat yang tepat mengkaji kembali paradigma dasar pengurusan dunia. Jika ditilik, krisis ekonomi dan lingkungan saat ini sesungguhnya berasal dari filosofi dasar yang sama: keserakahan liberalisme ekstrim.

Liberalisme terefleksikan dalam dua nilai utama: liberal demokrasi dan kebebasan individu yang absolut. Setiap individu mempunyai kebebasan mutlak memilih apa yang mereka inginkan. Nilai-nilai ini kemudian dimanifestasikan pada dua instrumen utama, yakni kebebasan pasar dan kapitalisme. Perkembangan pasar dan kapitalisme telah membuat dunia berkembang dengan cepatnya. Tentu, tak ada yang salah dengan ini semua.

Namun, pasar kemudian bergeser menuju fundamentalisme pasar, ujar Johan Galtung. Dengan kapitalisme, pasar hanya diperuntukan bagi para pemilik modal. Pasar hanya ditujukan untuk memberi makan kebanyakan orang di masyarakat yang sejahtera. Ketiadaan akses terhadap pasar dunia telah membuat jutaan orang hidup dalam kemiskinan. Puluhan ribu orang lainnya mati setiap hari karena kelaparan. Alhasil, tak ada keadilan global. Padahal, para pemilik modal, dengan bantuan pasar virtual semacam bursa saham, semakin menumpuk kekayaan yang tak berbatas. Ketika mereka terpuruk, dunia dipaksa ikut merasakan imbasnya.

Penguasaan pasar yang tak terkendali oleh para kapitalis ini juga menyebabkan eksploitasi sumberdaya alam yang lepas kontrol. Eksploitasi ini memang menggerakkan ekonomi dunia, namun meninggalkan jejak kerusakan lingkungan yang parah. Putaran mesin-mesin kapitalisme telah menggundulkan hutan demikian cepatnya. Beratus juta ton karbon ditumpuk di atmosfer. Limbah buangan berbahaya ditinggalkan dimana-mana. Tentu saja, eksploitasi ini bertujuan memenuhi permintaan pasar. Padahal seringkali permintaan tersebut hanyalah kebutuhan semu yang dipaksakan.

Alhasil, laju kerusakan dunia berlipat ganda karena gerakan roda industrialisasi yang berusaha memenuhi banyak kebutuhan semu. Globalisasi ujungnya tidak menjadi sarana penciptaan masyarakat dunia yang berkeadilan, tapi hanya alat penumpukan sumberdaya ekonomi di pusat-pusat kapitalisme dunia. Negara-negara berkembang sekali lagi hanya menjadi warga pinggiran dunia dan lebih banyak menerima imbas negatifnya.

Inilah yang kemudian melahirkan ketidakseimbangan global. Hal ini tidak hanya berimplikasi pada ketidakadilan distribusi sumberdaya ekonomi, tapi juga ketimpangan beban lingkungan. Liberalisme memang menawarkan kebebasan, namun tanggung jawab kolektif semakin tergerus, ujar David Shearman dan Joseph Smith dalam Climate Challenges and the Failure of Democracy (2007). Hal yang baik untuk dunia namun tak cukup baik bagi negara-negara maju harus ditolak. Inilah alasan mengapa Amerika, misalnya, menolak Protokol Kyoto.

Namun, kapitalisme bukanlah hal yang harus ditolak dan ditakuti. Tanpa kapitalisme, dunia tak akan berkembang cepat. Karena itu, paradigmanya yang harus diubah. Inilah yang ditawarkan oleh Amory Lovins sebagai Natural capitalism. Premis utama dibelakang konsep ini adalah penggunaan sumberdaya di planet ini secara efisien. Manusia memiliki kemampuan teknis untuk melakukan ini. Efisiensi ekologis dapat dicapai dengan meningkatkan kapsitas dan pada saat yang sama mengurangi eksploitasi berlebihan sumberdaya alam, mengurangi keluaran tak berguna dan kerusakan lainnya. Natural capitalism menginginkan bisnis beroperasi seperti sistem biologi, yang menghasilkan produk yang bersifat multi pakai dan dapat di daur ulang.

Namun, agar tak berbenturan dengan the real capitalism, dorongan dasar tindakan efisiensi secara ekologis tetaplah untung rugi ekonomi. Karena itu, efisiensi harus memunculkan peluang untuk menghemat lebih banyak pengeluaran yang pada akhirnya meningkatkan keuntungan. Efisensi ekologis dapat menjadi tawaran alternatif menyeimbangkan keuntungan kapitalisme dan pada saat yang sama mengerem laju kerusakan bumi karena putaran mesin industrialisasi.

(The image was taken from http://mikeely.files.wordpress.com/2008/11/burning-globe-final.jpg)


Advertisements

Written by yansenbengkulu

December 16, 2008 at 12:00 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: