Indonesia Green Chronicle

Yansen – University of Bengkulu and James Cook University

Kebakaran dan kompleksitas bencana

leave a comment »

kompas1

Kompas, 24 February 2009

Kebakaran semak belukar di negara bagian Victoria, Australia, mulai mereda. Lokasi kebakaran yang dekat dengan pemukiman membuatnya berdampak sangat besar. Tragedi ini telah menelan lebih dari 180 korban jiwa. Ini bencana terbesar sepanjang sejarah kebakaran hutan di Australia.

Kebakaran hutan, terutama di bagian selatan negara ini, memang rutin terjadi. Musim panas kering membuat hutan yang didominasi pohon Eucalyptus menjadi hamparan bahan bakar yang siap mengepul. Tak heran jika negeri ini dijuluki ‘the land of fire’.

Api sesungguhnya juga digunakan sebagai alat manajemen hutan dan sekaligus manajemen kebakaran. Seresah hutan sengaja dibakar untuk mengurangi resiko kebakaran tak terkontrol. Pengelola taman nasional juga mengaplikasikan kebakaran terkontrol untuk membatasi penyebaran species invasif. Namun, kebakaran kali ini memang parah. Udara yang sangat kering dan temperatur tinggi yang melanda negara-negara bagian di selatan pada beberapa bulan terakhir telah menyediakan bakan bakar yang sangat potensial sekaligus mempercepat penyebaran titik api.

Negara dengan dengan manajemen bencana yang sudah maju seperti Australia saja masih mengalami kehilangan jiwa yang besar karena bencana alam. Pemerintah negara ini kemudian ditekan untuk memperbaiki sistem peringatan dini kebakaran hutan. Keberhasilan sistem peringatan dini dalam menyelamatkan nyawa sudah terbukti untuk kejadian badai tropis. Badai Tropis Larry kategori 5 yang sangat parah pada tahun 2006 memang menyebabkan hilangnya milyaran dollar harta benda, namun perlu dicatat tak ada satu pun korban jiwa.

Melihat karakter bencana belakangan ini, resiko kejadian bencana alam sepertinya tidak akan menurun pada masa mendatang. Beberapa analisis menunjuk pada alterasi iklim yang berhubungan dengan pemanasan global sebagai bagian dari penyebabnya. Australia diperkirakan lebih beresiko mengalami kejadian serupa dengan yang terjadi di Victoria saat ini.

Bagaimana dengan kita?

Lalu bagaimana dengan negara kita? Gejala alam dan ulah manusia bersimultan melahirkan bencana yang semakin kompleks. Musim hujan berpadu dengan rusaknya ekosistem daerah aliran sungai menghasilkan banjir berulang-ulang. Daerah-daerah pertanian penting di hilir DAS menjadi yang paling terkena dampak. Ketidakmampuan sistem tanah menyerap air karena kehilangan vegetasi tumbuhan juga berujung derita di musim kering, dimana air tak mudah didapat. Dari semua itu, masyarakat miskin yang paling merasakan akibatnya. Vegetasi kering pada musim panas juga sangat potensial melahirkan kebakaran hutan. Namun bukannya mencegah, kita malah sengaja membakar sebagai cara murah persiapan lahan.

Ironinya, ditengah kemungkinan peningkatan resiko bencana karena alterasi iklim, kesadaran mencegah semakin terdegradasi. Keinginan menebas ekosistem hutan yang penting secara ekologis, misalnya, semakin meningkat. Departemen Kehutanan melaporkan banyaknya proposal dari daerah-daerah untuk mengkonversi hutan yang secara ekologis substansial. Tentu saja, kita tak menolak hutan diubah dalam mendukung perkembangan laju masyarakat. Namun jika dilakukan hanya demi tujuan ekonomis sesaat, tanpa perencanaan jangka panjang dan apalagi tak berdampak langsung ke masyarakat tentu harus ditinjau secara serius. Ujungnya, jadilah bangsa ini “bangsa yang tak sadar bencana” (Kompas, 16 Februari).

Peringatan dini

Isu penting lainya adalah lemahnya manajemen bencana, yang berbuah kegagalan mencegah kehilangan jiwa manusia dalam jumlah besar. Tsunami Aceh telah menghentak dengan gelombang kematian manusia. Tidak mustahil kejadian serupa terjadi lagi. Karena itu, sistem peringatan dini tsunami harus dijaga agar tetap beroperasi.

Sistem peringatan dini dan skema evakuasi bencana harus menjadi program prioritas pemerintah pusat dan daerah. Intensitas badai tropis yang semakin meningkat akhir-akhir ini patut diwaspadai. Peringatan dini badai tropis akan sangat penting bagi para nelayan, penduduk sekitar pantai dan sektor transportasi laut. Peringatan dini untuk banjir juga harus dinisiasi. Negeri ini juga mengalami gempa bumi yang rutin. Makanya, skema evakuasi dan tempat-tempat penampungan, contohnya, harus dibangun dan dimanajemen dengan baik di setiap tempat di negeri ini.

Kehilangan harta benda karena bencana alam mungkin tidak bisa ditiadakan. Namun, jiwa manusia dapat diselamatkan dengan manajemen bencana yang tepat. Dan tentu saja, nyawa lebih penting dari sekedar harta benda.

Yansen adalah Dosen Jurusan Kehutanan, Universitas Bengkulu

Advertisements

Written by yansenbengkulu

February 24, 2009 at 7:53 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: