Indonesia Green Chronicle

Yansen – University of Bengkulu and James Cook University

Bencana dan penyangkalan

leave a comment »

Di tengah hiruk pikuk masa kampanye, air bah jebolnya tanggul Situ Gintung menyeruduk. Puluhan orang tewas dan ratusan lainnya kehilangan tempat tinggal. Seperti ketika kejadian bencana lainnya, ditambah lagi sedang musim politik, tak ada pihak yang mau kehilangan muka. Semua saling menunjuk hidung, tak mau jadi pesakitan. Ketika tak ada yang mau bertanggung jawab, alam akhirnya dikambinghitamkan. Sedihnya, tak sedikit yang menganggap ini sebagai berkah kesempatan membangun citra atau menjatuhkan lawan politik. Politisi berlomba menawarkan jasa, ujungnya berharap pahala dukungan.

Kelalaian komunal

Masyarakat umum pun terjangkiti, dengan mudah menunjuk kelalaian negara. Gugatan yang tak salah. Dalam kasus ini, negara memang telah lalai merespon masukan masyarakat tentang perlunya perbaikan tanggul Situ Gintung. Namun, tak adakah kontribusi masyarakat dalam bencana ini? Memang mudah menyalahkan, namun siapa yang selayaknya bertanggung jawab?

Tanggung jawab sepertinya menjadi barang langka di negeri ini. Di tengah bujuk rayu ribuan calon legislatif yang meminta diberi amanah, Situ Gintung membuka tabir sesungguhnya. Bersama-sama bencana-bencana lainnnya di Indonesia, ia seakan ingin mengatakan bahwa tak banyak anak bangsa yang layak mendapatkan amanah rakyat.

Kalangan terpelajar pun tak bersih dari dosa Situ Gintung. Mengapa? Seperti yang diketahui, jebolnya tanggul ini merupakan kombinasi berbagai faktor. Rusaknya vegetasi hulu di Situ Gintung membuat limpasan air permukaan tak tertahan dengan baik. Di samping air tak terserap ke tanah, limpasan yang kuat ini menyebabkan erosi permukaan yang membuat proses penumpukan lumpur di waduk semakin cepat. Alhasil, proses pendangkalan pun tak terhindari. Kontruksi tanggul juga sudah berumur dan mimim perawatan. Kalaupun alam disalahkan karena hujan deras yang tak henti, sudah tentu ia cuma pemantik kejadian.

Ironisnya, perubahan kawasan di bagian hulu Situ Gintung sebagiannya diperuntukkan untuk kalangan terpelajar. Di antara lahan yang telah berubah dibangun kampus dan kompleks perumahan akademisi yang merupakan simbol nalar pengetahuan. Hal ini seperti menyiratkan hal lain, akademisi kita pun tak mampu berpikir jauh ke depan. Teori umum tentang fungsi ekosistem yang dipahami sebagian besar mereka tak berguna di aras realitas. Ujungnya, pengembangan kampus dan perumahan kaum terpelajar bersumbangsih negatif bagi lingkungan. Jika demikian halnya dengan orang berpendidikan, bagaimana kita mengharapkan masyarakat pedesaan misalnya mampu memahami keeratan hubungan perubahan ekosistem dan kejadian bencana.

Kita juga cenderung berpikir reaktif ketimbang antisipatif. Sebelum kelahiran UU No. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, paradigma penanganan bencana lebih bersifat emergency dan penanganan paska bencana. Dalam UU No. 24 tahun 2007 paradigma ini diubah dengan menekankan pada aspek mitigasi. Namun sayangnya, semangat ini ditenggarai hanya sebagai reaksi atas kejadian tsunami, bahwa diperlukan legal framework untuk menangani bencana. Padahal, sebelum tsunami pun bencana sudah berulang-ulang terjadi dalam berbagai bentuknya. Kesadaran perlunya manajemen bencana yang menyeluruh ini pun belum membumi. Manajemen bencana yang meliputi mitigasi, penanganan saat dan paska bencana, seperti yang diamanatkan undang-undang tersebut, belum juga diadaposi oleh sebagian besar daerah-daerah.

Akumulasi faktor kelalaian negara, ketidakpedulian masyarakat dan paradigma berpikir yang reaktif melahirkan kompleksitas permasalahan bangsa, termasuk bencana.

Butuh keseriusan

Lalu, sampai kapankah komponen bangsa ini saling melimpahkan kesalahan ke pundak pihak lain, dan di saat yang sama menyangkal tanggung jawab sendiri?

Menanggung beban memang tak ringan, karenanya penyangkalan lebih mudah dilakukan. Penyangkalan adalah mekanisme pertahanan diri, ujar Sigmund Freud. Ini terjadi karena fakta yang sangat tidak mengenakkan, makanya lebih nyaman untuk menolaknya, walaupun bukti menunjuk kesana. Memang tingkat penyangkalan berbeda-beda. Sebagian terlihat menyangkal fakta dan tanggung jawab sama sekali. Ada juga yang hanya menyangkal tingkat keseriusan masalah bencana yang dihadapi.

Karena itu, keseriusan menghadapi permasalahan bencana di negara ini merupakan hal wajib. Setiap komponen bangsa harus mampu mengemban tugasnya masing-masing, tentunya dengan tingkat yang berbeda-beda. Negara harus serius menjadi pelayan rakyat, yang direfleksikan oleh sikap dan tindakan aparaturnya. Masyarakat pun harus siap berkontribusi secara positif. Keseriusan inilah yang nantinya bertransformasi menjadi tanggung jawab, yang kemudian diikuti langkah nyata yang antisipatif.

Jika tak serius dan tak bertanggung jawab, bangsa ini akan menjadi addicted terhadap penyangkalan. Dan karena penyangkalan merupakan mekanisme dari pikiran yang immature, kata Anna Freud, jangan-jangan bangsa ini memang masih kanak-kanak.

Yansen, mengajar Ekologi di Jurusan Kehutanan Universitas Bengkulu

Advertisements

Written by yansenbengkulu

April 13, 2009 at 6:24 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: