Indonesia Green Chronicle

Yansen – University of Bengkulu and James Cook University

Bumi dan generasi hijau

leave a comment »

kompas

Harian Kompas, 22 April 2009

Rangkaian bencana ekologis yang terjadi belakangan ini menandai semakin ringkihnya bumi menopang kehidupan manusia. Laju pertumbuhan penduduk yang meninggi dan pada saat yang sama menurunnya daya dukung lingkungan melahirkan kompleksitas ekologis. Bobolnya tanggul Situ Gintung yang baru saja terjadi menunjukkan bahwa kapasitas sistem penyangga kehidupan manusia akan rapuh tanpa perawatan yang baik. Situs tangkapan air yang bertebaran, yang memberikan jaminan ketersediaan pasokan air dan juga mencegah banjir, harus dikelola. Perkembangan pemukiman tanpa perencanaan dan ketiadaan orientasi ekologis tidak hanya mengancam fondasi lingkungan, namun juga membahayakan kita yang mendiami habitat tersebut.

Tatanan alam seringkali hanya dipandang sebagai sebuah siklus biologi yang akan memperbaiki dirinya sendiri. Namun, fakta menunjukkan bahwa pemanfaatan sumberdaya alam oleh manusia, termasuk yang tergolong dapat diperbaharui, tak mampu diimbangi oleh bumi mereproduksi diri. Manusia pun cenderung tak memperhatikan dampak yang sifatnya jangka panjang dan tak berefek langsung. Kita pun jadi lalai dan tak peduli. Sebut saja kasus pencemaran Teluk Buyat. Akumulasi logam berat di teluk tersebut bukanlah terjadi dalam satuan hari, tapi bertahun-tahun. Ketika dampak mengemuka barulah disadari bahaya yang mengintai.

Karena itu, jika bencana ekologis membayangi, terutama akibat ulah manusia, ia bukanlah hasil proses jangka pendek. Penggundulan hutan menahun, misalnya, berujung pada kerusakan sistem daerah aliran sungai. Akhirnya, banjir terjadi berulang-ulang. Inilah hasil dari kelalaian bercampur ketidakpedulian, yang tak berbuah kebaikan bagi kehidupan spesies manusia.

Penyakit terbesar manusia

Mengapa kita tak peduli? Meminjam istilah Garret Hardin (1968), inilah yang disebut the tragedy of the commons, kegagalan memelihara milik bersama. Joseph Stiglitz (2006) mengatakan “jika ada sumberdaya bersama yang dapat digunakan secara gratis, para pengguna biasanya gagal berpikir apakah tindakannya mungkin membahayakan yang lain; setiap orang seringkali kehilangan rasa akan kebaikan bersama.” Inilah sesungguhnya penyakit terbesar manusia.

Kegagalan mengapresiasi sumberdaya bersama juga akan melahirkan ekternalitas negatif. Ekses-ekses buruk dapat disebabkan oleh perilaku pihak luar dan tanpa disadari berpengaruh terhadap kehidupan komunitas lain. Ketidakmampuan Indonesia mencegah kebakaran hutan misalnya, tak hanya berimbas negatif kepada rakyat negara ini, namun lebih jauh penduduk Singapura yang tak berkaitan langsung dengannya.

Karena itu, ahli ekonomi menawarkan privatisasi untuk mencegah the tragedy of the commons ini. Privatisasi dimunculkan sebagai alternatif untuk memperjelas pemilik yang berhitung untung rugi sehingga lebih bertanggung jawab. Namun, keuntungan privatisasi tak diraih dalam pengelolaan sumberdaya lingkungan. Jika menengok privatisasi sumberdaya hutan alam di negara ini, hanya terlihat catatan buruk. Privatisasi hutan alam dalam bentuk pemberian hak pengusahaan hutan tak bersimbiosis dengan peningkatan motivasi melestarikan hutan. Prestasi yang tertoreh tak lebih dari catatan panjang deforestasi.

Disinilah letak peran negara sebagai pihak kunci manajemen sumberdaya alam. Apalagi, dalam konteks Indonesia, sesuai amanat UUD 1945, sumberdaya yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai negara. Manajemen yang baik akan memimalisasi kerusakan common goods akibat ulah tak bertanggung jawab, sekaligus mengurangi akibat negatif untuk pihak lain. Karena itu, ujar Joseph Stiglitz (2006), kontrol sosial dan legal menjadi penting.

Generasi hijau

Menandai peringatan Hari Bumi 22 April tahun ini diluncurkan kampanye global Generasi Hijau. Inisiatif ini didasari pada kesadaran pentingnya masyarakat dalam melestarikan bumi. Pemerintah saja tak cukup. Rangkaian efek dari kerusakan lingkungan yang telah kita rasakan hendaknya membangkitkan kesadaran sosial untuk berbuat. Kitalah pemilik bumi ini. Konsekuensinya, kita pulalah yang harus bertanggung jawab melestarikannya.

Inisiatif Generasi Hijau ingin mengajak orang-orang biasa untuk terlibat secara individual dan kolektif untuk meningkatkan kualitas lingkungan sekitar mereka. Masyarakat pun diharapkan berkontribusi pada ide-ide solusi permasalahan lingkungan yang lebih makro. Apapun kita: pelajar, petani, aktivis, ilmuwan, pemuka agama, profesional, guru atau lainnya, kita dapat memberikan kontribusi pada penciptaan bumi yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Kita telah terbiasa melakukan pembiaran dan tak peduli pada kepentingan umum. Padahal, kesadaran akan penyelamatan lingkungan tak hanya berlandaskan pada semangat altruistik saja. Lebih jauh ini adalah demi kepentingan kelanjutan kehidupan manusia itu sendiri. Kita dihadapkan pada kemungkinan ecological suicide akibat ketidakpedulian terhadap lingkungan. Hanya pembangunan kesadaran masif akan kepentingan kehidupan bersama di masa depan yang akan menjamin keberlanjutan sistem bumi.

YANSEN, Dosen Ekologi Jurusan Kehutanan Universitas Bengkulu; Australian Leadership Award Scholar

Advertisements

Written by yansenbengkulu

April 22, 2009 at 11:17 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: