Indonesia Green Chronicle

Yansen – University of Bengkulu and James Cook University

Ada lagi yang mati

with one comment

(The Indonesian version of the post “The last tiger standing”)

Beberapa waktu terakhir beberapa media nasional memberitakan konflik antara masyarakat dengan harimau sumatera. Tiga harimau sumatera dilaporkan mati dijerat di Riau. Bukan tanpa alasan, hewan buas tersebut telah memangsa ternak petani dan menyerang penduduk. Di Jambi, enam petani tewas diterkam harimau. Ini bukan kasus pertama, dan sepertinya tidak akan menjadi yang terakhir. Konflik manusia dengan satwa liar dilindungi, terutama harimau dan gajah, menjadi cerita berulang di Pulau Sumatera.

Keberhasilan konservasi satwa langka sebenarnya bisa menjadi penghias wajah Indonesia di dunia internasional. Wakil Presiden Jusuf Kalla saja disambut auman harimau sumatera yang berhasil ditangkarkan dan beranak pinak ketika berkunjung ke Jepang. Namun, ini bukanlah usaha yang mudah. Upaya relokasi satwa liar di habitat alam saja, misalnya, selalu ditentang masyarakat lokal.

Konservasi satwa memang bisnis rumit di negeri ini. Sumatera contohnya. Keberadaan sebelas taman nasional, tiga diantaranya berstatus World Heritage, tak serta merta menyelesaikan masalah. Beratnya konservasi mega-fauna juga disebabkan munculnya perasaan tak adil bagi masyarakat sekitar hutan. Mengapa mendahulukan hewan daripada manusia, demikian pertanyaan mereka. Catatan kematian akibat serangan satwa buas juga menjadikan mereka antipati.

Mengingat fakta banyaknya masyarakat Indonesia yang bermukim di sekitar hutan dan memanfaatkan hasil hutan atau lahan di sekitar hutan, konflik ini harus ditangani dengan baik. Sebagai masyarakat yang tergantung pada pertanian, akses pada lahan merupakan perhatian utama mereka. Karenanya tak heran jika kawasan yang dilindungi terkepung oleh para petani. Perambahan liar kemudian menjadi umum, yang berimbas pada menyempitnya habitat mega-fauna yang berdaya jelajah luas.

Ekspansi sawit

Disamping perambahan oleh masyarakat, ekspansi lahan sawit membuat kondisi lebih berat lagi. Booming pengembangan komoditi ini membuat banyak perusahan terjun ke bisnis sawit dengan membuka perkebunan baru. Menurut laporan yang diterbitkan Greenpeace Indonesia, dari 28 juta hektar hutan yang dihancurkan sejak tahun 1990, sebagian besarnya ditujukan untuk pembuatan perkebunan kelapa sawit.

Maraknya pengembangan bio-fuel di Eropa ikut mendongkrak komoditi ini. Indonesia dan Malaysia merupakan dua negara utama penghasil minyak sawit mentah. Dalam periode 1995-2004 saja, laju pembukaan lahan sawit di Indonesia mencapai 362.000 ha/tahun. Sebagian besar lahan tersebut adalah di Sumatera dan Kalimantan. Uni Eropa menargetkan sepersepuluh alat transportasi dengan bahan bakar minyak akan diganti dengan bahan bakar nabati pada 2020. Indonesia memasang target ambisius untuk memenuhi seperlima kebutuhan material bahan bakar alami Eropa dari sektor kelapa sawit. Alhasil, ekspansi kelapa sawit belum akan mereda.

Ex-situ atau in-situ?

Konservasi satwa secara ex-situ mungkin menjadi salah satu alternatif menyelamatkan satwa langka. Tapi, haruskah konservasi satwa liar buas di habitat alam (in-situ) ditiadakan? Tentu tidak. Satwa liar predator, sebagai contoh, merupakan bagian penting dari kesimbangan sistem alam. Kehilangan elemen dasar penyusun rantai kehidupan membuat ekosistem tak seimbang.

Lebih jauh dari itu, masuknya satwa liar kepemukiman sebenarnya merupakan indikator penting perubahan ekosistem. Bukan hanya berarti bagi hewan, ini pun bermakna bagi manusia. Ketidakmampuan ekosistem hutan memenuhi kebutuhan hewan merupakan sinyal bahwa hutan juga dalam kondisi kritis untuk menopang kehidupan manusia. Maka tak heran, kejadian ini juga bersimultan dengan peningkatan risiko bencana karena rusaknya ekosistem.

Konflik ini sesungguhnya pesan tentang keharusan bertindak cepat dan tepat menyelamatkan ekosistem hutan kita. Tentu tak mudah, namun bukan juga hal yang mustahil. Pokok terpenting adalah mengetahui sumber masalah.

Permasalahan konservasi Indonesia lebih bersifat sosial daripada teknis. Karena itu, pendekatan penyelesaian masalah konservasi harus berorientasi pada penciptaan keadilan sosial. Sebagai masalah sosial, penanganan konservasi selama ini terlalu bersifat teknis. Departemen yang menangani pun hanya Departemen Kehutanan. Untuk menciptakan visi sosial penyelesaian masalah, ada baiknya dicari terobosan untuk melibatkan departemen lain, semisal Departemen Sosial, untuk terlibat. Ini berguna untuk mencari penyelesaian alternatif.

Masyarakat yang mengakses hutan secara langsung haruslah menjadi sektor utama yang menjadi perhatian. Model konservasi mikro mungkin dapat menjadi pilihan. Usaha konservasi akan dapat berjalan baik jika fokus diarahkan untuk menyelesaikan masalah komunitas-komunitas kecil yang membutuhkan akses langsung ke hutan dan sumberdaya alam lainnya. Pada akhirnya ini dapat mengurangi tingkat konflik masyarakat dengan satwa liar dilindungi.

Note: The image was taken from:http://a.abcnews.com/images/International/ap_sumatran_tiger_090302_mn.jpg

Advertisements

Written by yansenbengkulu

May 4, 2009 at 12:00 am

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. hem,,begitu menyedihkan yah..masak harimau sumatra hidup lebih enak di jepang? di indonesia pada di buru seh…

    angga

    May 5, 2009 at 11:45 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: