Indonesia Green Chronicle

Yansen – University of Bengkulu and James Cook University

Invasi biologis!

leave a comment »

Tak ada lagi jalan nasib individu;

hanyalah takdir bersama, dimana penyakit dan emosi dibagi bersama

–Albert Camus

Setelah dibayang-bayangi kecemasan penyebaran flu babi beberapa waktu terakhir, warga dunia dapat sedikit bernafas lega. Laju perkembangan virus ini disimpulkan tidak seganas yang diprediksi awal. Namun, ketakutan tetap saja mengemuka. Lembaga kesehatan dunia, WHO, yang telah menetapkan level wabah pada level 5 belum menurunkan statusnya, bahkan berencana menaikkan ke level 6 atau pandemi.

Memang, ungkap Andrew Nikiforuk (2006) dalam Pandemonium, invasi penyakit seperti ini sangat mudah mengglobal. Wabah ini menemukan tiga hal pendukung: ekonomi global, kepadatan penduduk (terutama kota besar) dan tingginya tingkat mobilitas manusia. Karena kemampuan virus swine flu bertransmisi secara human to human, efek globalnya memang mencemaskan. Betul saja, peta penyebaran terbaru yang dirilis WHO menunjukkan bahwa sebaran virus ini sudah di empat benua

Ketakutan akan perkembangan flu babi ini juga dipengaruhi faktor psikologis krisis keuangan global. Jika Andrew Nikiforuk menyebut aktivitas ekonomi global sebagai penunjang perkembangan invasi biologis semacam wabah ini, ketakutan saat ini adalah munculnya efek ganda karena berjangkitnya bersamaan dengan lesunya ekonomi dunia. Bukan hanya kehilangan jiwa, sakitnya ribuan warga hanya akan menyeret ekonomi dunia yang sakit ke arah jurang depresi yang lebih dalam. Sejauh ini Meksiko merupakan negara yang paling menderita kerugian. Disamping banyaknya jumlah penderita, ditutupnya banyak aktivitas ekonomi di Mexico City dua minggu terakhir menyebabkan negara ini merugi sampai 100 juta dollar AS per hari.

Kegalauan eksistensi ekologis

Sebagai bagian integral sistem rumah tangga alam, manusia berinteraksi, mempengaruhi dan dipengaruhi oleh kejadian alam. Demikian juga makhluk lainnya. Kejadian kepunahan beberapa jenis fauna misalnya berkaitan erat dengan perubahan alam dalam proses perkembangan bumi. Bersamaan dengan perkembangan manusia, anasir-anasir biologis juga berkembang dan berevolusi.

Sebagai makhuk bumi paling cerdas dan berada di level atas rantai makanan, manusia mengeksploitasi alam dan mengubah setiap jejak muka bumi. Industrialisasi dan globalisasi seakan tak menyediakan ruang jeda bagi manusia. Namun globalisasi tak hanya menyediakan ruang yang lebih luas bagi manusia untuk berkiprah, ia juga menjadi agen penyebaran dan perkembangan komponen-komponen biologi negatif. Flu babi ini salah satunya. Pertemuan antara virus flu manusia, burung dan babi menghasilkan instrumen penyakit yang lebih gawat. Globalisasi juga cenderung membentuk keseragaman. Introduksi monokultur adalah contohnya. Padahal, dalam perspektif imunitas, keseragaman bisa berbahaya. Varietas tanaman yang seragam misalnya lebih rentan gagal massal jika terserang hama.

Manusia telah menghiasi dunia dengan karyanya, walaupun tak sedikit imbas negatif yang diciptakan. Namun, apakah kehidupan bumi akan lebih baik tanpa manusia? Demikian pertanyaan besar Alan Weissman dalam bukunya The World Without Us (2007). Ia menjawab tidak juga. Alan Weissman melanjutkan bahwa pertanyaan eksistensial seperti ini harus diajukan untuk memberi ruang penilaian secara bijak manfaat keberadaan manusia di muka bumi. Dengan itu manusia mempunyai sandaran moral memutuskan langkah terbaik mengenai apa yang akan ia lakukan.

Takdir bersama

Globalisasi telah menciptakan ekonomi dan politik global. Tidak hanya itu, seperti yang disiratkan Albert Camus, globalisasi menghadirkan takdir bersama. Kita tak bisa menghindar sepenuhnya dari ekternalitas negatif yang diciptakan, sengaja atau tidak, oleh pihak luar. Karenanya, mau tak mau, manajemen bangsa yang mumpuni sangat diperlukan untuk menjamin keselamatan rakyat.

Wabah flu babi mungkin belum berjangkit di negeri ini. Namun, tak ada jaminan kita terbebas dari penyakit ini. Pemerintah memang harus mengambil tindakan preventif. Bangsa ini juga bahkan belum sepenuhnya bebas dari wabah biologis yang lain: flu burung. Beragam jenis penyakit lain yang ditularkan oleh agen-agen biologis semacam nyamuk pun tetap menghantui. Banyak dari ancaman biologis ini berasal dari ketidaksehatan lingkungan hidup sekitar. Padahal, kesehatan masyarakat sangat ditentukan oleh kesehatan lingkungan mereka. Karena itu, kampanye kesehatan lingkungan harus terus digalakkan. Pemberian informasi yang luas dan benar tentang ragam penyakit dan pencegahannya harus semakin gencar dilakukan.

Hentakan berbagai ancaman biologis mother nature membawa pesan jelas: sistem ekologi kehidupan manusia semakin kompleks. Di tengah tren semakin cepatnya pertambahan populasi manusia, permasalahan di masa datang akan semakin rumit. Ini berarti tantangan ke depan yang harus dihadapi bangsa ini semakin besar. Sudahkah kita bersiap menghadapinya?

YANSEN, mengajar Ekologi di Universitas Bengkulu


Advertisements

Written by yansenbengkulu

May 15, 2009 at 3:37 pm

Posted in Disasters, Environment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: