Indonesia Green Chronicle

Yansen – University of Bengkulu and James Cook University

Tafsir Ekologis Cicak vs Buaya

with one comment

Perseteruan “cicak vs buaya” masih kabur bagaimana ujungnya. Belum selesainya penanganan kasus Bibit-Chandra, ditambah pengakuan terakhir Wilardi Wizard dalam kasus Antasari Azhar semakin membuat episode ini penuh kejutan. Tak kurang, energi bangsa tersedot untuk ini. Cerita program 100 hari pemerintahan Yudhoyono-Budiono tak lagi menarik bagi memori publik. Rakyat seakan menyaksikan dengan tegang rangkaian klimaks dan anti-klimaks yang bakal terjadi dalam pertunjukan ini.

Cicak vs buaya

Tak disengaja, pengistilahan “cicak vs buaya” seakan menyiram bensin ke api, membesar seketika. Langsung saja istilah ini mengigatkan kita pada kisah Daud vs Jalut. Nurani kemanusiaan memang cenderung membela yang lemah. Karena itu, kesalahan pertama pihak polisi sesungguhnya ketika memandang KPK sebagai pihak yang lemah (cicak).

Pengistilahan ini pun seakan menarik keluar arsip memori bawah sadar. Kenangan pelajaran moral yang diajarkan di dongeng-dongeng ketika kecil bergaung kembali. Lucunya, kebanyakan dongeng menggunakan hewan sebagai karakter simbolnya. Maka, kisruh ini seakan mengajak kita mendukung kura-kura yang diajak bertanding lari oleh si kancil yang licik. Atau, berbalik mendukung si kancil ketika berhadapan dengan harimau.

Inilah mungkin yang disebut dalam Psikologi Jungian sebagai ketaksadaran kolektif. Pikiran komunal yang tersimpan di relung bawah sadar masyarakat bangsa tersentak. Nilai-nilai moral dan etika yang secara tak tersadari tetap tersimpan baik dalam arsip-arsip pikiran dan tak tergerus waktu. Ketika keluar, nilai-nilai tersebut menjadi energi dahsyat untuk mendukung yang secara moral dianggap benar.

Tafsir ekologis

Penggunaan istilah “cicak vs buaya” yang pada awalnya dikemukakan pihak polisi menggelitik saya untuk melihatnya dari perspektif ekologi, hubungan antar makhluk hidup dan juga lingkungannya.

Menarik diingat, walaupun sama-sama berada dalam Kelas Reptil, cicak dan buaya tak terkoneksi secara langsung. Mereka adalah karnivora yang tak terhubung dalam jaring rantai makanan. Relung ekologi dan habitatnya pun berbeda, tidak tumpang tindih. Hasilnya semestinya tak ada kompetisi.

Pada kenyataannya, kondisinya memang lebih mirip “singa vs hyena” yang berada pada relung ekologi yang sama. Ketika ini yang terjadi, maka lahirlah persaingan memperebutkan sumberdaya dan pada saat yang sama mempertahankan teritorial.

Ada dua tipe kompetisi yang mungkin terjadi: scramble atau contest. Persaingan yang bersifat scramble membuat individu memperkecil relung ekologinya dan berbagi sumberdaya. Tak ada yang mendominasi. Tak ada komponen komunitas yang mendapatkan sumberdaya maksimal. Sebaliknya, pada kompetisi yang bersifat contest, muncul individu-individu dominan. Lahir juga individu-individu sub-dominan.

Jikalau benar ada persaingan pada institusi penegak hukum, sepertinya yang terjadi adalah contest competition. Kita bisa menilai dari pernyataan presiden beberapa waktu lalu yang menganggap KPK telah menjadi lembaga super. Sebagai lembaga extra-ordinary, KPK betul-betul mendominasi jalannya penegakan hukum tindak pidana korupsi. Bukan tak mungkin, ini membuat sumberdaya dan lahan para mafia hukum semakin mengecil. Padahal, KPK sesungguhnya lembaga yang tak perlu ada jika organ hukum berjalan dengan baik.

Alhasil, jika benar ada persaingan lembaga yang kemudian berujung pada kriminalisasi lembaga lain, alamat bencana di depan mata. Dalam hukum rimba, kompetisi hanya melahirkan korban yang berada di level bawah rantai makanan dan membiarkan yang kuat selalu berkuasa. Lagi-lagi rakyat jelatalah korban pertama.

Menurut begawan Ekologi, Eugene Odum (1971), unit yang meliputi semua organisme pada area tertentu berinteraksi dengan lingkungan fisik. Interaksi ini berujung pada terjadinya aliran energi yang mengarah kepada tingkatan trofik yang jelas dan munculnya keragaman biotik. Kemudian muncul siklus material antara bagian biotik dan abiotik dalam sistem tersebut. Sejalan dengan ini, sesungguhnya kita mengharapkan adanya aliran energi positif antar lembaga penegak hukum sebagai bagian dari unit kebangsaan Indonesia. Ujungnya adalah lahirnya kerjasama yang elok.

Kita semua menanti apakah akhir cerita kisruh ini akan seperti dongeng-dongeng yang sampai sekarang masih menjadi pengantar tidur anak-anak kita. Akankah ini berakhir seperti kura-kura yang menang bertanding lari dengan kancil karena kepandaiannya? Atau, akankah epilognya seperti singa yang kemudian bersahabat dengan tikus kecil yang menyelamatkannya dari jeratan pemburu?

Mungkin lebih baik kita bikin saja dongeng baru: persahabatan kedua makhluk tadi, “cicak cs buaya”. Tak hanya cicak yang kita minta bersatu, buaya pun kita minta mereformasi diri untuk mendukung langkah-langkah menumpas monyet-monyet korupsi.

Advertisements

Written by yansenbengkulu

November 18, 2009 at 11:51 am

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. menarik sekali artikelnya..perpaduan antara perspektif ekologi dan isu sosial yang kini berkembang. seharusnya “buaya” itu makanannya monyet2 yang korup dan bukan “cicak” yang justru berjasa dalam menumpas “nyamuk”2 penghisap kesejahteraan rakyat

    Irwan

    November 26, 2009 at 10:21 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: